JAKARTA - Amerika Serikat pada Hari Selasa mengakui upaya kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina mesih belum memadai, memperingatkan masih adanya kesenjangan yang signifikan dalam mengakses bantuan.
"Tentu saja, masih banyak pekerjaan yang perlu dilakukan. Kita masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh," kata Utusan AS Mike Waltz kepada Dewan Keamanan PBB, kendati menyebutkan apa yang digambarkannya sebagai kemajuan yang berarti dalam pengiriman bantuan.
"Mereka yang tinggal di wilayah tersebut membutuhkan perumahan yang lebih bersih dan tahan lama serta layanan kesehatan," jelas Waltz, menambahkan Washington "bekerja setiap hari dengan rekan-rekan Israel kami dan mitra lainnya di seluruh badan ini untuk memperkuat akses kemanusiaan ke dan di dalam Gaza."
Waltz mengatakan AS, bersama dengan para mitranya, "memungkinkan masuknya lebih dari 4.000 truk barang-barang kemanusiaan dan barang-barang penting lainnya setiap minggu selama 16 minggu terakhir," tetapi mengakui bahwa "jumlah tersebut telah berkurang baru-baru ini."
Menunjuk pada upaya rekonstruksi jangka panjang, Waltz mengatakan tujuannya adalah untuk "menggerakkan Gaza melampaui ketergantungan 100 persen pada bantuan," dengan alasan "Gaza dapat menjadi tujuan investasi dan pertumbuhan nyata serta mengubah budaya ketergantungan dan ketergantungan absolut pada bantuan kemanusiaan yang saat ini dialaminya."
Ia mengutip janji "dukungan lebih dari 7 miliar dolar AS" dari beberapa negara regional, menggambarkan kontribusi tersebut sebagai "upaya nyata, uang nyata."
BACA JUGA:
Waltz juga menanggapi kekhawatiran atas Tepi Barat yang diduduki, dengan menyatakan: "Presiden Trump telah jelas: Amerika Serikat menentang aneksasi Tepi Barat."