Bagikan:

JAKARTA - Otoritas Israel terus melanjutkan penutupan Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Palestina yang diduduki bagi para jamaah Muslim selama 24 hari berturut-turut, dengan alasan keamanan.

Tindakan sewenang-wenang ini secara luas dianggap belum pernah terjadi sebelumnya, karena masjid tersebut belum pernah mengalami penutupan penuh selama Bulan Suci Ramadan sejak 1967, atau penangguhan total kegiatan keagamaan dalam skala sebesar ini, dikutip dari WAFA (23/3).

Selama Ramadan lalu, pasukan pendudukan mencegah jemaah melaksanakan Salat Tarawih di beberapa lingkungan Yerusalem yang diduduki, dengan menempatkan pasukan di sekitar Gerbang Damaskus dan Gerbang Herodes, memaksa jamaah untuk pergi dalam upaya untuk membubarkan mereka dan mencegah berkumpulnya orang untuk salat.

Penutupan ini terjadi di tengah pengerahan pasukan besar-besaran di sekitar Masjid Al-Aqsa dan Kota Tua, di mana pasukan pendudukan memberlakukan pembatasan ketat terhadap pergerakan, menutup beberapa gerbang, dan mencegah berkumpulnya orang.

Langkah-langkah ini juga berdampak pada staf Waqf (lembaga wakaf Islam) dengan pengurangan jumlah orang yang diizinkan masuk, yang berdampak pada administrasi harian situs tersebut.

Penutupan ini merupakan bagian dari peningkatan pembatasan yang lebih luas, bertepatan dengan penguncian total Tepi Barat dan meningkatnya ketegangan regional.