Bagikan:

JAKARTA - Presiden AS Donald Trump mengancam Iran jika Selat Hormuz tetap tertutup selama 48 jam, militer AS akan menargetkan pembangkit listrik di seluruh Republik Islam.

Peringatan Trump itu disampaikan dalam akun media sosial Truth Social pada Sabtu malam 21 Maret waktu setempat.

“Jika Iran tidak SEPENUHNYA MEMBUKA, TANPA ANCAMAN, Selat Hormuz, dalam waktu 48 JAM dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PEMBANGKIT LISTRIK mereka, DIMULAI DENGAN YANG TERBESAR TERLEBIH DAHULU!” tulis Trump dalam unggahan tersebut.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Jalur perairan penting global tersebut terdampak akibat dari serangan besar-besaran AS-Israel sejak 28 Februari di tengah perudingan nuklir AS-Iran yang ditengahi Oman.

Iran yang membalas serangan AS-Israel membuat jalur kapal-kapal pengangkut energi dunia tesendat melewati Selat Hormuz berujung pada melonjaknya harga minyak secara global.

Tekanan akibat perang yang diawali AS-Israel ini membuat Trump tertekan sehingga AS mencoba mencabut beberapa sanksi terhadap Iran.

Pada Jumat 20 Maret, Trump memungkinkan penjualan minyak yang diproduksi di Iran, upaya terbaru untuk memperlambat kenaikan harga energi yang meroket.

Ilustrasi isi BBM di SPBU. (Fahad Puthawala-Pexels)

Selama perang dengan Iran, NBC News melaporkan harga bensin eceran telah naik 93 sen per galon, dan harga minyak mentah AS telah naik lebih dari 70 persen sejak awal tahun.

Awal bulan ini, Pemerintah AS juga mencabut Undang-Undang Jones, memungkinkan beberapa peraturan pengiriman minyak untuk dihapus. Langkah ini juga mencabut beberapa sanksi terhadap minyak Rusia untuk sementara waktu.

Trump juga telah berulang kali mengajak sekutu AS untuk membantu mengendalikan Selat Hormuz. Namun, ditolak oleh banyak sekutu AS, termasuk negara-negara anggota NATO.

Ketidakberpihakan terhadap perang yang digembor-gemborkan AS dan sekutunya Israel ini membuat Trump berang.

“Anda tahu, kami tidak menggunakan selat itu, Amerika Serikat. Kami tidak membutuhkannya,” kata Trump.

“Eropa membutuhkannya. Korea, Jepang, China, banyak orang lain, jadi mereka harus terlibat,” ancam Trump.

Arsip. Laboratorium Lingkungan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atau Badan Pengawas Nuklir PBB di Monako pada 30 September 2011. (Wikimedia Commons)

AS-Israel Serang Fasilitas Nuklir Iran

Ancaman Trump terhadap pembangkit listrik pada Sabtu malam 21 Maret itu dapat memicu listrik mati di banyak wilayah di Iran.

Peringatan Trump itu muncul ketika perang di Timur Tengah memasuki minggu keempat. Sejauh ini AS-Israel telah menyerang bangunan sekolah dasar di Iran menyebabkan lebih dari 150 orang tewas, termasuk para siswi. AS-Israel juga melakukan serangan lebih dahulu terhadap fasilitas penyulingan air minum sipil, kilang minyak, kantor perbankan, hingga fasilitas nuklir di Iran.

Iran kemudian membalasnya dengan menargetkan pangkalan militer gabungan Inggris-AS hingga aset-aset AS di Timur Tengah. AS kemudian kembali membalas dengan menyerang lagi situs pengayaan nuklir utama Iran di Natanz.

Kantor berita resmi Iran, Mizan, mengatakan tidak ada kebocoran setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Natanz, yang terletak hampir 135 mil di tenggara Teheran, akibat serangan terhadap pengayaan nuklir utama Iran yang sejauh ini dibuktikan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atau Badan Pengawas Nuklir PBB untuk kebutuhan sipil.

Menurut IAEA, sebagian besar dari sekitar 970 pon uranium yang diperkaya Iran berada di tempat lain, di bawah reruntuhan di fasilitas Isfahan, dengan jumlah yang lebih sedikit di Natanz. IAEA dalam akun X-nya mengatakan bahwa mereka telah diberi informasi tentang serangan tersebut dan sedang menyelidikinya.