Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak mendukung gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.

Pernyataan tersebut disampaikan pada Sabtu, 21 Maret, atau sehari setelah komentarnya kepada wartawan di Gedung Putih.

“Saya tidak ingin melakukan gencatan senjata. Anda tahu, Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda benar-benar menghancurkan pihak lain,” ujar Trump dilansir dari Anadolu.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan Israel mengakhiri perang bersamaan dengan Washington, Trump menyebut hubungan kedua negara sangat baik dan memiliki tujuan yang sejalan.

“Saya pikir begitu. Hubungannya sangat baik. Kami menginginkan hal-hal yang kurang lebih sama. Kami menginginkan kemenangan, kami berdua,” katanya.

Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Trump mengisyaratkan keinginan membuka dialog dengan Iran. Namun, ia menilai tidak ada pihak yang dapat diajak berbicara setelah serangan yang berlangsung berminggu-minggu.

Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani.

Di sisi lain, Iran menolak wacana gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyatakan bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas konflik yang terjadi serta dampaknya terhadap kawasan yang lebih luas.

Dalam kesempatan yang sama, Trump juga menyinggung soal ketergantungan terhadap Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak global yang krusial. Ia menilai Amerika Serikat tidak terlalu bergantung pada jalur tersebut.

“Kita tidak menggunakan selat itu. Kita tidak membutuhkannya. Eropa membutuhkannya. Korea Selatan, Jepang, China. Jadi mereka harus sedikit terlibat,” ujarnya.

Selat Hormuz menjadi sorotan sejak Korps Garda Revolusi Islam mengumumkan pembatasan bagi sebagian besar kapal sebagai respons atas serangan gabungan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari.

Upaya Trump untuk meminta dukungan internasional dalam membuka kembali jalur tersebut tidak mendapat respons luas. Sejumlah negara menilai konflik ini merupakan konsekuensi dari langkah militer yang diambil tanpa konsultasi internasional.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan itu dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk lebih dari 150 anak di sebuah sekolah dasar perempuan.

Iran kemudian membalas melalui serangan rudal dan pesawat tanpa awak yang menargetkan wilayah Israel serta aset yang dikaitkan dengan Amerika Serikat di kawasan, memperburuk eskalasi konflik.