JAKARTA - Juru bicara Dana Moneter Internasional (IMF), Julie Kozack, menyebut operasi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran berpotensi meningkatkan inflasi global jika konflik berlangsung lama.
“Jika berkepanjangan, harga energi yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan inflasi utama,” kata Kozack dilansir ANTARA dari Sputnik, Jumat, 20 Maret.
Menurut perhitungan IMF, kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dalam jangka panjang dapat meningkatkan inflasi global sebesar 40 basis poin dan menurunkanoutputglobal sebesar 0,1 hingga 0,2 persen.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
BACA JUGA:
Kemudian, Iran merespons dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Eskalasi di sekitar Iran telah menyebabkan terhentinya secara de facto lalu lintas di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, yang berdampak pada ekspor dan produksi minyak di kawasan.
Sebagai bagian dari upaya menekan harga minyak, AS memberikan pengecualian sanksi atas pembelian minyak Rusia oleh India yang dimuat ke kapal tanker sebelum 5 Maret, serta kemudian untuk seluruh minyak dan produk minyak Rusia yang dimuat ke kapal sejak 12 Maret.