Bagikan:

JAKARTA – Anggota Komisi II DPR RI, Ujang Bey, meminta pemerintah menyusun desain kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah potensi dampak ekonomi global secara jelas dan terukur sebelum nantinya benar-benar diterapkan.

“Usulan WFH dalam rangka efisiensi BBM tersebut harus diapresiasi. Terlebih beberapa hari lagi juga kita akan menghadapi libur Hari Raya Idulfitri dan Nyepi,” ujarnya, Rabu 18 Maret.

Menurut Ujang, kebijakan WFH perlu disertai perhitungan yang matang, terutama terkait potensi penghematan BBM yang dapat dihasilkan dari kebijakan tersebut.

Selain itu, pelayanan publik harus dipastikan tetap berjalan optimal meskipun sistem kerja dari rumah diberlakukan.

“Perlu dihitung, baik secara data berapa BBM yang kita mau hemat, serta bagaimana pelayanan terhadap masyarakat tetap berjalan dengan baik dan efektif meskipun WFH diberlakukan,” imbuhnya.

Politikus dari Fraksi Partai NasDem ini juga menilai pemerintah harus menentukan secara spesifik kementerian atau lembaga mana saja yang dapat menerapkan sistem kerja tersebut.

Hal itu penting mengingat jumlah aparatur sipil negara (ASN) yang cukup besar di berbagai instansi.

“Karena instansi dan kementerian kan banyak ada berapa ribu PNS. Tinggal instansi/kementerian mana saja yang akan menyelenggarakan WFH dengan rentang waktu yang sudah ditetapkan, mungkin nanti di situ akan terlihat berapa BBM yang bisa dihemat,” terang Ujang.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mendorong langkah penghematan konsumsi BBM sebagai bagian dari upaya mengantisipasi dampak ketidakpastian global.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan kerja dari rumah.

“Tentunya kita juga sekarang harus melakukan langkah-langkah yang proaktif, dalam arti kita harus melakukan penghematan konsumsi BBM. Kita tidak bisa menganggap bahwa apapun terjadi kita aman, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita,” kata presiden dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta Pusat, akhir pekan kemarin.

Presiden menyatakan, dinamika global di kawasan Eropa dan Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga energi dunia, termasuk BBM.

Kenaikan harga energi tersebut dikhawatirkan berdampak pada harga pangan.

Menurutnya, pemerintah telah mengamankan sejumlah kebutuhan pangan pokok.

Di sisi lain, berbagai rencana terkait sektor energi juga akan dipercepat pelaksanaannya.

Meski demikian, Prabowo menilai upaya penghematan konsumsi energi tetap perlu dilakukan sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global.