JAKARTA - Badan Gizi Nasional (BGN) mengoptimalkan anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp268 triliun dan tidak menggunakan dana siaga sebesar Rp63 triliun untuk merespons krisis global yang menyebabkan pemerintah harus melakukan harmonisasi anggaran.
"Menyikapi fenomena global, terutama terkait dengan energi dan efeknya terhadap ekonomi Indonesia, kita sedang melakukan hitungan-hitungan agar kita bisa ikut berkontribusi dalam menyikapi krisis yang ada. Tentu kita harus ikut memilikisense of crisisdan kami sedang melakukan hal-hal yang memungkinkan penggunaan anggaran lebih efisien," kata Kepala BGN Dadan Hindayana dilansir ANTARA, Selasa, 17 Maret.
Dadan menjelaskan, penggunaan anggaran sebesar RpRp268 triliun terus dioptimalkan agar efektif dan tidak ada penyalahgunaan. Selain itu, BGN juga mengurangi kegiatan-kegiatan lain yang tidak krusial.
"BGN memiliki pagu anggaran Rp268 triliun dengan danastand by(siaga) Rp63 triliun, dan langkah pertama yang sedang kita lakukan, kita optimalkan Rp268 triliun dan coba kita tidak hitung yangstand byini, jadi, kita akan mengefektifkan yang Rp268 triliun. Nah, dari Rp268 triliun yang kita peroleh tersebut, kita juga sedang hitung berapa nanti maksimal yang bisa kita gunakan, setelah kita hitung, akan kita laksanakan dengan beberapa hal yang perlu dilakukan terkait efisiensi," paparnya.
BACA JUGA:
BGN juga memberhentikan sementara 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyajikan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) tak sesuai anggaran selama bulan Ramadhan 1447 H.
"Minimal ada 62 SPPG yang kami tutup sementara karena tidak sesuai di dalam memberikan menu, baik itu menu minimalis maupun menu yang kurang baik, itu yang selama Ramadhan ini kita tutup dulu sementara," katanya.
Dadan mengemukakan, 62 SPPG tersebut menjadi vocal minority atau akhirnya menjadi perbincangan warganet dan viral di media sosial sehingga BGN segera menghentikan sementara operasionalnya.
"Padahal, ada 25 ribu lebih SPPG yang berjalan, tetapi 62 itu yang membuat menu kurang sesuai dan minimalis yang membuat viral, jadinya vocal minority, kan? 62 tetapi membuat viral seluruhnya, padahal, sebagian besar kan melaksanakan dengan baik. Jadi, kami ingin yang 62 itu makin lama makin kecil, sehingga laporan yang keluar itu adalah yang silent majority ini, jadi harus diungkap (SPPG) yang bagus-bagus itu banyak," tuturnya.