JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menghadapi masa depan yang "sangat buruk" jika sekutu gagal membantu membuka kembali Selat Hormuz, menandakan tekanan pada Eropa dan China untuk bergabung dengan AS dalam upaya perang melawan Iran.
Dalam wawancara dengan Financial Times yang diterbitkan Minggu, Presiden Trump mengatakan dia dapat menunda pertemuan puncak dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan dari 31 Maret hingga 2 April, karena dia mendesak Beijing untuk membantu membuka blokade jalur air strategis tersebut.
"Sangat tepat bahwa orang-orang yang mendapat manfaat dari Selat tersebut akan membantu memastikan bahwa tidak ada hal buruk yang terjadi di sana," katanya, mencatat ketergantungan besar Eropa dan China pada minyak Teluk, tidak seperti AS, dilansir dari Anadolu (16/3).
"Jika tidak ada tanggapan atau jika itu adalah tanggapan negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," tambahnya.
Pernyataan Presiden Trump muncul sehari setelah Ia meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris untuk bergabung dalam "upaya tim" untuk mengamankan jalur sempit tersebut, yang secara efektif ditutup Iran setelah serangan gabungan AS-Israel selama dua minggu terakhir.
Ia juga meminta China untuk bertindak sebelum KTT-nya di Beijing, dengan mencatat negara tersebut memasok 90 persen minyaknya melalui Selat tersebut.
"Kami ingin tahu sebelum itu," katanya.
BACA JUGA:
Presiden Trump juga menyoroti Inggris atas responsnya yang lambat, dengan mengatakan Inggris hanya menawarkan dua kapal setelah kapasitas militer Iran sebagian besar telah hancur.
Politisi Partai Republik itu memperingatkan, AS dapat menyerang pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg dan infrastruktur minyak Iran lainnya.
"Anda melihat kami menyerang Pulau Kharg, semuanya kecuali pipa kemarin," katanya, merujuk pada serangan bom yang diumumkannya pada Hari Jumat.
"Kita bisa menyerang itu dalam lima menit. Dan tidak ada yang bisa mereka lakukan," tambahnya.