Bagikan:

JAKARTA - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus campak yang terkonfirmasi positif di wilayah Ibu Kota. Meski begitu, pemantauan terus dilakukan melalui sistem surveilans di sejumlah fasilitas kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati mengatakan, pengawasan dilakukan untuk mendeteksi secara dini kemungkinan munculnya kasus campak di Jakarta.

"Campak saat ini di Jakarta belum ditemukan ada yang positif Jadi kami melakukan pemantauan dengan melakukan surveilans," ucap Ani kepada wartawan, Rabu, 11 Maret.

Ani menjelaskan, beberapa fasilitas kesehatan di Jakarta menjadi lokasi pemantauan kasus penyakit dengan gejala infeksi saluran pernapasan. Sistem ini juga digunakan untuk mengidentifikasi potensi kasus campak.

"Ada beberapa lokasi faskes yang menjadi lokasi surveilans untuk ILI (Influenza Like Illness) dan SARI (Severe Acute Respiratory Infection)-nya," ujar Ani.

Ia menambahkan, pasien yang menunjukkan gejala mengarah pada campak akan menjalani pemeriksaan lanjutan melalui uji laboratorium guna memastikan diagnosis.

"Nanti yang memang kami temukan yang bergejala, kita cek di laboratorium. Tapi sejauh ini untuk domisili di Jakarta belum ada, tetapi daerah di sekitar Jakarta memang sudah mulai ada," ungkap Ani.

Meski belum ditemukan kasus positif di Jakarta, Ani mengingatkan kondisi ini tetap perlu menjadi perhatian bersama. Terlebih menjelang Lebaran, ketika mobilitas dan interaksi masyarakat biasanya meningkat. Menurut dia, kelompok yang paling rentan terpapar campak adalah anak-anak.

"Jadi ini tetap menjadi kewaspadaan kita sama-sama, terutama menjelang hari raya Lebaran ketika ramai biasanya banyak berinteraksi antara satu dengan lain, dan kelompok paling rentan adalah anak-anak," kata Ani.

Ani juga mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat berinteraksi dengan bayi dan balita yang daya tahan tubuhnya masih rentan.

"Jadi bayi dan anak-anak harus kita jaga benar. Salah satu pesannya adalah jangan suka memegang atau mencium anak-anak, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan," ujarnya.

Kasus kejadian luar biasa (KLB) campak kembali menjadi perhatian di Indonesia. Lonjakan jumlah kasus dalam beberapa waktu terakhir membuat para tenaga kesehatan mengingatkan pentingnya percepatan imunisasi untuk melindungi anak-anak dari penyakit yang sangat menular ini.Jalur Mudik Indonesia

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan adanya peningkatan signifikan kasus campak hingga minggu ke-7 tahun 2026. Tercatat sebanyak 8.224 kasus suspek, dengan 572 kasus terkonfirmasi serta empat kematian.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Melihat kondisi tersebut, IDAI mengajak orang tua, tenaga kesehatan, serta pemerintah untuk bersama-sama mempercepat upaya imunisasi bagi anak.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak harus menjadi prioritas bersama.

“Kita harus bertindak cepat untuk melindungi anak-anak Indonesia. Imunisasi adalah hak dasar anak dan kewajiban kita untuk memastikan setiap anak terlindungi,” ujar Piprim.