JAKARTA - Longsor gunungan sampah di Zona 4 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, berdampak pada sistem pengelolaan sampah harian Jakarta. Hal ini diakui oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
Peristiwa itu terjadi pada Minggu, 8 Maret sekitar pukul 14.30 WIB setelah hujan lebat dengan durasi panjang mengguyur kawasan tersebut. Tumpukan sampah yang sudah tinggi memicu terjadinya pergeseran hingga akhirnya longsor.
Pramono mengakui longsor tersebut pasti berdampak terhadap sistem penanganan sampah Jakarta. Karena itu, Pemprov DKI mulai menyiapkan langkah pembatasan pengiriman sampah ke Bantargebang yang daya tampungnya sudah sangat terbatas.
"Pasti ada dampaknya. Untuk itu, kami akan melakukan proses pemilahan di ujung, dan sekaligus untuk mengatur agar semuanya itu tidak dikirimkan ke Bantargebang. Karena Bantargebang memang harus mulai ada pembatasan karena daya tampungnya sudah sangat terbatas," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, Maret.
Pramono mengakui, volume sampah dari Jakarta yang dikirim ke TPST Bantargebang bisa mencapai 8.000 ton per hari. Ia mengakui selama ini pengiriman sampah ke tempat pembuangan akhir tersebut masih dilakukan tanpa proses pemilahan dari hulu.
"Karena sekarang ini hampir sebagian besar tidak dilakukan pemisahan kemudian dikirim ke Bantargebang," ujarnya.
Sebagai langkah mitigasi, operasional di Zona 4A TPST Bantargebang untuk sementara ditutup. Pengiriman sampah dari Jakarta juga diminimalkan dan sementara dialihkan ke Zona 3. Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan dua zona tambahan.
"Untuk sementara ini, sambil menunggu Zona 4A diselesaikan, maka Zona 3 dan dua zona baru sedang kita persiapkan untuk bersifat temporary, sementara, jadi tidak permanen,” ujar Pramono.
Pramono mengatakan pemerintah juga akan segera melakukan normalisasi Sungai Ciketing yang tertutup material sampah akibat longsor tersebut.
BACA JUGA:
Pramono berharap proses penanganan di lokasi tidak berlangsung lama. "Saya sudah meminta ini tidak berkepanjangan, sebab kalau berkepanjangan maka Jakarta pasti akan terganggu," lanjutnya.
Tercatat empat korban meninggal dunia akibat peristiwa ini, yang terdiri dari dua sopir, satu pedagang perempuan berusia sekitar 60 tahun, serta seorang pemulung perempuan.
Selain korban meninggal, terdapat lima orang yang mengalami luka-luka. Seluruh korban luka saat ini telah kembali ke rumah masing-masing setelah sempat mendapatkan perawatan.
Bagi korban meninggal yang merupakan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Dinas Lingkungan Hidup, keluarga akan menerima santunan dari BPJS Ketenagakerjaan.
"Sementara biaya pengobatan bagi yang luka-luka sepenuhnya ditanggung oleh Pemerintah DKI Jakarta," tutup Pramono.