Bagikan:

JAKARTA - Longsor terjadi di area Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang pada Minggu, 8 Maret. Peristiwa ini menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan sejumlah truk sampah tertimbun material longsor.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengaktifkan operasi tanggap darurat untuk menangani dampak kejadian tersebut.

Tim gabungan dikerahkan untuk melakukan evakuasi korban, mengevakuasi kendaraan yang tertimbun, serta menstabilkan area timbunan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan operasi penanganan dilakukan segera setelah laporan kejadian diterima.

"Begitu kejadian dilaporkan, kami langsung mengaktifkan operasi tanggap darurat. Prioritas utama adalah keselamatan petugas, penanganan korban, serta percepatan evakuasi kendaraan yang tertimbun longsoran," kata Asep dalam keterangannya, Minggu, 8 Maret.

Penanganan di lokasi melibatkan sejumlah unsur, di antaranya Yon Armed 7/155 GS Kodam Jaya, BPBD DKI Jakarta, BPBD Kota Bekasi, Dinas Pemadam Kebakaran Kota Bekasi, Polsek Bantargebang, serta Koramil 05/Bantargebang. Asep juga turun langsung memimpin operasi di lapangan.

Berdasarkan data sementara, longsor di TPST Bantargebang menyebabkan tiga orang meninggal dunia. Mereka adalah Sumini (60), pemilik warung di sekitar lokasi; Dedi Sutrisno, pengemudi truk Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Pusat; serta Endah Widayati (25) yang berprofesi sebagai pemulung.

Selain korban meninggal, satu pengemudi truk Sudin Lingkungan Hidup Jakarta Selatan bernama Slamet mengalami luka ringan. Ia sempat mendapatkan perawatan medis sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.

DLH juga memastikan para korban akan mendapatkan penanganan sesuai ketentuan yang berlaku.

"Seluruh PJLP yang meninggal dunia akan mendapatkan santunan berupa BPJS Ketenagakerjaan, sementara biaya pengobatan bagi korban yang mengalami luka akan ditanggung oleh Pemerintah Daerah, serta akan diberikan santunan sosial bagi korban terdampak lainnya, termasuk pemilik warung dan pemulung yang bukan berstatus PJLP," ujar Asep.

Dalam proses evakuasi, tim gabungan mengerahkan 13 unit ekskavator untuk membuka timbunan material longsor. Selain itu, dua unit ambulans dari DLH dan Pemerintah Kota Bekasi juga disiagakan di lokasi.

Dari tujuh truk yang terdampak longsor, lima unit telah berhasil dievakuasi. Sementara dua kendaraan lainnya masih dalam proses penanganan.

Di sisi lain, DLH juga melakukan langkah stabilisasi area untuk mencegah potensi longsor susulan. Penataan dan penguatan zona timbunan dilakukan secara bertahap agar kondisi kembali aman untuk operasional.

"Keselamatan dalam pengoperasian layanan sampah di TPST Bantargebang adalah prioritas utama. Setelah area dinilai aman, kami langsung melakukan stabilisasi dan penataan zona timbunan agar kondisi kembali terkendali," ucap Asep.

Meski proses penanganan masih berlangsung, Pemprov DKI Jakarta berupaya memastikan layanan pengelolaan sampah tetap berjalan. DLH membuka satu titik pembuangan sementara di TPST Bantargebang pada malam hari agar ritase truk sampah dari Jakarta tetap berjalan.

Sementara dua titik pembuangan lainnya masih dalam proses perapihan. DLH juga meminta satuan kerja di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menunda sementara pengiriman sampah ke TPST Bantargebang hingga proses evakuasi selesai.

"Pemprov DKI berkomitmen menangani situasi ini secara cepat, hati-hati, dan terkoordinasi. Fokus kami adalah keselamatan, penanganan korban, serta memastikan operasional pengelolaan sampah Jakarta dapat segera pulih dengan aman," pungkasnya.