Bagikan:

PEKANBARU - Balai Taman Nasional Tesso Nilo(TNTN), Provinsi Riau, memperketat patroli kawasan dan mendorong sinergi lintas pemangku kepentingan untuk memberantas jerat satwa liar usai kematian seekor anak gajah akibat terjerat di dalam area konservasi tersebut.

“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Bagi kami ini merupakan pukulan keras masih terjadi kegiatan yang menyebabkan kematian satwa liar di kawasan hutan,” kata Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro dilansir ANTARA, Rabu, 4 Maret.

Ia menjelaskandari hasil pemeriksaan awal terhadap bangkai tersebut ditemukan jerat yang mengikat kaki depan satwa dilindungi itu. Saat ditemukan, kaa dia, kondisi bangkai telah membusuk dan diperkirakan telah mati sekitar sepekan.

Menurut dia, persoalan jerat menjadi ancaman utama bagi satwa liar di hutan Sumatera dan tidak hanya terjadi di kawasan konservasi taman nasional. TNTN yang berbatasan langsung dengan hutan produksi dinilai memerlukan langkah pemberantasan jerat secara bersama-sama.

“Pemberantasan jerat harus dilakukan secara bersinergi antara pemangku kawasan hutan, baik kementerian, pemerintah daerah, maupun perusahaan yang mengelola hutan tanaman industri,” ujarnya.

Heru menegaskan diperlukan larangan keras serta sanksi tegas terhadap pelaku pemasangan jerat di seluruh kawasan hutan, baik konservasi, hutan lindung, maupun hutan produksi. Ia menyebut pelaku kerap berdalih jerat dipasang untuk babi hutan yang tidak dilindungi undang-undang.

"Memasang jerat di kawasan hutan apapun harus dilarang dan pelakunya harus disanksi tegas,” katanya.

Balai TNTN juga meningkatkan penjagaan dengan dukungan 230 personel TNI yang saat ini turut mengamankan kawasan.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memberantas jerat satwa yang menjadi ancaman utama.

"Khususnya bagi gajah, karena ukuran jerat yang dipasang untuk satwa tidak dilindungi kerap menjerat anak gajah yang memiliki telapak kaki lebih kecil dibandingkan gajah dewasa," kata Kepala Balai TNTNHeruSutmantoro.