Bagikan:

JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi menilai Pemerintahan Amerika Serikat (AS) dipimpin Presiden Donald Trump menjalankan perundingan nuklir seperti transaksi properti.

"Ketika negosiasi nuklir yang kompleks diperlakukan seperti transaksi properti, dan ketika kebohongan besar mengaburkan kenyataan, harapan yang tidak realistis tidak akan pernah terpenuhi," tulis Araghchi dalam akun X-nya, Rabu 4 Maret.

Lantaran tidak memiliki etikad baik dalam negosiasi nuklir, lanjut dia, AS dipimpin miliarder properti bertindak sesuka hati.

"Hasilnya? Membom meja perundingan karena dendam," ujar Araghchi.

Menurut Araghchi, diplomasi yang dimainkan Pemerintah Trump dalam penyelesaian masalah di Timur Tengah, terutama terkait negosiasi nuklir, telah mengkhianati masyarakat AS. Trump saat kampanye Pilpres AS 2024 menebar janji “America First” yang menekankan akan menghindari konflik luar negeri jika terpilih masa jabatan kedua sebagai presiden.

"Tuan Trump mengkhianati diplomasi dan rakyat Amerika yang memilihnya," kata Araghchi.

Ambulans terdampak serangan udara Israel-AS ke Iran pada 28 Februari 2026. (X @Iranian_RCS)

AS-Israel menyerang Iran di tengah negosiasi nuklir masuk putaran keempat. Oman melalui Menteri Luar Negerinya, Sayyid Badr Al-Busaidi, diketahui telah menjadi penengah dalam negosiasi tersebut.

Al-Busaidi menjadi negisiator perundingan nuklir Iran-AS di Jenewa sejak putaran pertama hingga putaran keempat yang rencananya digelar di Wina pada awal Maret 2026 tetapi batal karena AS-Israel tiba-tiba melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu 28 Februari.

"Saya sangat kecewa. Negosiasi yang aktif dan serius sekali lagi telah dirusak. Baik kepentingan AS maupun tujuan perdamaian global tidak terlayani dengan baik oleh hal ini. Dan saya berdoa untuk orang-orang tak berdosa yang akan menderita. Saya mendesak AS untuk tidak semakin terlibat. Ini bukan perang Anda," ujar Al-Busaidi lewat akun X-nya, @badralbusaidi.

Iran kemudian melakukan aksi balasan dengan menyerang aset-aset AS di Timur Tengah dan Israel pada Minggu 1 Maret.

Serangan balasan Iran menargetkan aset-aset AS di Dubai, UEA; ibu kota Bahrain, Manama; dan ibu kota Qatar, Doha.