JAKARTA - Solidaritas dan kepedulian menjadi fondasi penting bagi komunitas sesama warga negara Indonesia (WNI) di perantauan, kata Konsul RI di Songkhla Winardi H. Lucky dalam buka puasa dan Salat Tarawih bersama sekitar 100 WNI dan warga negara asing (WNI) di Konsulat Republik Indonesia di Songkhla, Thailand, Hari Sabtu.
Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Indonesia, tenaga pendidikan, anak buah kapal, serta pekerja swasta yang berdomisili di berbagai kota di Selatan Thailand.
Konsul Lucky mengatakan, Ramadan menjadi momen refleksi sekaligus penguatan solidaritas antar sesama anak bangsa di luar negeri.
"Ramadan di Thailand memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan di Indonesia. Namun dalam
perbedaan tersebut, kita belajar untuk saling menghargai, beradaptasi, dan memperkuat kebersamaan. Nilai solidaritas dan kepedulian menjadi fondasi penting bagi komunitas kita di perantauan," jelasnya melansir keterangan KRI Songkhla, Sabtu (28/2).
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen KRI Songkhla untuk terus hadir dan menjalin kedekatan dengan masyarakat Indonesia di wilayah akreditasi.
Suasana kebersamaan semakin terasa dengan hadirnya beragam kuliner khas Indonesia bernuansa Minangkabau dan Nusantara, seperti gule tunjang, sate Padang, soto Padang, ayam lado ijo, perkedel, hingga kolak cendol.

Selain menghadirkan cita rasa autentik Tanah Air, sajian tersebut turut menjadi sarana diplomasi budaya melalui promosi kuliner Indonesia kepada para tamu yang hadir.
Buka puasa dan Salat Tarawih bersama direncanakan akan dilaksanakan secara rutin setiap Hari Sabtu hingga menjelang Idulfitri.
Pada hari pertama Lebaran mendatang, KRI Songkhla juga akan menggelar open house sebagai wadah halal bihalal dan penguatan silaturahmi diaspora.
Diketahui, Ramadan di Thailand memiliki karakteristik tersendiri. Konsentrasi terbesar penduduk Muslim berada di wilayah selatan, khususnya di lima provinsi paling selatan, yakni Narathiwat, Yala,
Pattani, Songkhla dan Satun.
Di kawasan Hat Yai Nai, satu ruas jalan berubah menjadi pusat jajanan halal yang ramai dikunjungi masyarakat selama Ramadan. Salah satu hidangan khas yang identik dengan Bulan Suci adalah tupak sutong, yakni cumi berisi ketan yang dimasak dengan santan.
Berbeda dengan Indonesia, pedagang makanan sahur hampir tidak ditemukan, sehingga masyarakat umumnya menyiapkan santap sahur secara mandiri di rumah. Perbedaan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi diaspora Indonesia dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial dan budaya setempat.
BACA JUGA:
Salah seorang mahasiswa Indonesia yang hadir menyampaikan apresiasinya atas inisiatif tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini menghadirkan suasana Ramadan yang lebih bermakna dan memperkuat rasa kebersamaan di tengah kehidupan perantauan.
Melalui rangkaian kegiatan Ramadan hingga open house Idulfitri mendatang, KRI Songkhla menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan pelayanan, perlindungan, serta penguatan
solidaritas diaspora Indonesia di Selatan Thailand.