JAKARTA - Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyampaikan pesan langka kepada Amerika Serikat. Pyongyang mengaku bisa “rukun” dengan Washington, tetapi hanya jika AS menerima bahwa senjata nuklir Korea Utara akan tetap ada. Di saat yang sama, Kim menegaskan niatnya memperluas persenjataan nuklir dan jangkauan operasionalnya.
Pernyataan itu, seperti dikutip dari bbc, Jumat, 27 Februari, disampaikan dalam kongres partai yang digelar lima tahun sekali di Pyongyang. Komentar Kim dinilai masih membuka peluang pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump, menjelang rencana kunjungan Trump ke China pada April.
Namun, nada Kim terhadap Korea Selatan justru semakin keras. Ia menyebut Seoul sebagai “entitas paling bermusuhan” dan memupus harapan adanya pelonggaran ketegangan diplomatik di Semenanjung Korea.
Menurut kantor berita negara Korea Utara, KCNA, seperti dikutip dari bbc, Kim mengatakan, jika Washington “menghormati posisi [nuklir] kami sebagaimana diatur dalam Konstitusi” dan mencabut kebijakan permusuhannya, “tidak ada alasan mengapa kami tidak bisa rukun dengan Amerika Serikat”.
Kim menambahkan, masa depan hubungan AS–Korea Utara “sepenuhnya bergantung pada sikap Amerika Serikat”. “Entah hidup berdampingan secara damai atau konfrontasi permanen, kami siap untuk keduanya, dan pilihan itu bukan di tangan kami,” ujarnya.
BACA JUGA:
Soal Korea Selatan, Kim menyatakan Pyongyang akan “secara permanen mengecualikan Seoul dari kategori sesama bangsa”. Ia juga menambahkan bahwa selama Korea Selatan masih berada dalam “kondisi geopolitik” karena berbatasan dengan Korea Utara, “satu-satunya cara hidup aman adalah melepaskan semua hal yang terkait dengan kami dan membiarkan kami sendiri”.
Seorang analis kepada AFP menilai pernyataan Pyongyang menandakan niat Korea Utara untuk membangun hubungan dengan AS secara langsung, tanpa “melewati” Korea Selatan.
Di bagian lain, Kim kembali menonjolkan program nuklirnya. “Kami akan fokus pada proyek untuk menambah jumlah senjata nuklir dan memperluas sarana operasional nuklir,” kata Kim.
Meski sudah lama dikenai sanksi internasional, Korea Utara terus membangun kemampuan nuklirnya, termasuk rutin menguji coba rudal antarbenua yang dilarang. Pekan ini, KCNA menyebut Korea Utara di bawah Kim “secara radikal meningkatkan” daya tangkal perangnya, dengan kekuatan nuklir sebagai poros. Namun, karena rezimnya tertutup, perkembangan militer yang sebenarnya sulit dinilai dari luar.
Lembaga kajian independent Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), disitat dari bbc, memperkirakan tahun lalu Korea Utara memiliki sekitar 50 hulu ledak nuklir yang sudah dirakit, serta cukup bahan fisil untuk memproduksi hingga 40 hulu ledak tambahan.
Kim juga pernah menyerukan perluasan program nuklir “tanpa batas” pada November 2024.
Di sisi lain, tahun lalu Trump merilis peta jalan keamanan global yang tidak memasukkan denuklirisasi Korea Utara sebagai tujuan. Padahal, target itu disebut sebagai hal yang selama ini selalu muncul dalam Strategi Keamanan Nasional presiden-presiden AS sejak 2003, ketika program nuklir Pyongyang menjadi sorotan. Tidak dicantumkannya target tersebut memicu spekulasi bahwa perundingan Trump–Kim yang terakhir berlangsung pada 2019 bisa kembali dibuka.
Dalam peta jalan Trump pada 2017, Korea Utara disebut 16 kali dan digambarkan sebagai ancaman, termasuk kemungkinan “menggunakan senjata nuklir terhadap Amerika Serikat”.
Kim, sebaliknya, menegaskan denuklirisasi bukan agenda Pyongyang. “Konsep ‘denuklirisasi’ sudah kehilangan maknanya. Kami sudah menjadi negara nuklir,” kata Kim kepada parlemen pada September. Ia menambahkan bahwa “denuklirisasi” adalah hal “terakhir, terakhir” yang bisa diharapkan dari Korea Utara.
Kim menutup dengan pesan yang intinya meminta AS mengubah pendekatan. Jika Amerika Serikat berhenti mengejar denuklirisasi pihak lain, mengakui kenyataan, dan benar-benar menginginkan hidup berdampingan secara damai, maka Pyongyang tidak melihat alasan untuk menolak pertemuan langsung.