Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah ingin aset budaya tidak lagi sekadar daftar panjang di lemari negara. Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sepakat mengunci kerja sama baru yaitu, integrasi data Cagar Budaya Nasional dan Warisan Budaya Takbenda (WBTB) agar promosi dan paket perjalanan wisata lebih tajam, terukur, dan berdampak pada kunjungan.

Kesepakatan itu dibahas dalam pertemuan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa, 24 Februari. Agenda yang digarap mencakup integrasi data, penguatan ekosistem event budaya, penyusunan travel pattern, optimalisasi promosi digital, hingga diplomasi budaya di level internasional.

“Budaya dan pariwisata memiliki hubungan yang sangat erat. Kolaborasi ini menjadi kunci agar potensi budaya kita benar-benar memberi dampak pada peningkatan kunjungan wisatawan,” kata Fadli.

Fadli membeberkan Kementerian Kebudayaan mengelola 313 Cagar Budaya Nasional dan 2.727 WBTB, termasuk 514 WBTB baru pada 2025. Ia menilai potensi itu belum maksimal menjadi kekuatan destinasi budaya, sejarah, religi, maupun kuliner. Kuncinya, kata dia, ada pada packaging dan narasi yang kuat—bukan promosi datar.

Untuk situs prioritas, Fadli menyebut Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, dan Plaosan sudah dalam skema kerja sama pengelolaan dengan InJourney. Pemerintah juga memperkuat Dieng dan Muara Jambi, termasuk pembangunan Candi Kedaton dan Koto Mahligai, serta rencana peresmian Museum Sriwijaya Dharmakirti tahun depan.

Soal Borobudur, Fadli menilai kapasitas kunjungan masih bisa dioptimalkan. Saat ini, kuota pengunjung yang boleh naik ke struktur utama sekitar 4.000 orang per hari. “Pemasangan chattra diharapkan menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang memiliki makna spiritual sekaligus daya tarik global,” ujarnya.

Ia juga menyoroti destinasi sejarah-arkeologi seperti Banda Neira dengan narasi Jalur Rempah, benteng kolonial di Maluku, hingga kawasan Leang-Leang di Sulawesi Selatan dan Leang Metanduno di Muna yang disebut berusia sekitar 67.800 tahun dan telah dipublikasikan dalam jurnal internasional. Menurut Fadli, narasi besar peradaban perlu dirangkai menjadi pola perjalanan wisata terpadu.

Widiyanti menyambut sinergi itu. Ia menyebut Kemenpar fokus pada promosi dan infrastruktur destinasi, termasuk lewat platform indonesia.travel.id yang dilengkapi analisis tren berbasis kecerdasan buatan. “Kami membutuhkan dukungan data dan storytelling dari Kementerian Kebudayaan agar museum dan cagar budaya dapat tampil lebih kuat di platform digital kami,” kata dia.

Widiyanti menambahkan target kenaikan kunjungan 14 persen dengan sasaran 17 juta wisman membutuhkan promosi berbasis pengalaman. Program Kharisma Event Nusantara (KEN) yang tahun ini berisi 145 event dinilai bisa menjadi ruang integrasi event budaya agar dampak ekonominya lebih luas.