JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengajak negara anggota Konferensi Perlucutan Senjata atau Conference on Disarmament (CD) membangun ketahanan kolektif, meskipun ada ketegangan geopolitik, untuk menjaga integritas dan tujuannya.
Hal itu dikatakan Menlu Sugiono saat menyampaikan Pernyataan Nasional Indonesia dalam "High-Level Segment of the Conference on Disarmament 2026" di Jenewa, Swiss pada Hari Rabu.
Menlu Sugiono mengatakan, Presiden RI Prabowo Subianto telah menekankan, Indonesia harus membangun kekuatan di dalam negeri sambil berkontribusi pada perdamaian di luar negeri.
"Visi nasional kita jelas: kedaulatan, kemandirian, dan keterlibatan aktif dalam membentuk tatanan internasional yang stabil," kata Menlu RI, mengutip salinan Pernyataan Nasional Indonesia yang dibagikan Kementerian Luar Negeri, Selasa (24/2).
"Bagi Indonesia, ketahanan nasional dan stabilitas global tidak dapat dipisahkan," lanjutnya.
Lebih jauh Menlu Sugiono mengatakan, :kita tidak dapat mengejar pembangunan di dunia yang dibayangi oleh ancaman nuklir. Keamanan adalah fondasi kemakmuran."
"Demi kemanusiaan dan generasi mendatang, kita harus menunjukkan ketahanan yang dinamis: kemampuan untuk beradaptasi dengan ketidakpastian, menanggapi guncangan, dan tetap berprinsip di bawah tekanan, tanpa mundur dari komitmen internasional apa pun," katanya.
"Bagi Konferensi ini, ketahanan berarti menjaga integritas dan tujuannya meskipun ada ketegangan geopolitik. Itu berarti membela norma-norma perlucutan senjata bahkan ketika norma-norma tersebut dipersoalkan. Memastikan bahwa multilateralisme memberikan hasil, bukan sekadar retorika," urainya.
"Dan kunci ketahanan ini harus dibangun secara kolektif," tandas Menlu RI.
Menlu Sugiono mengatakan, semangat yang sama harus membimbing konferensi dan proses terkait lainnya tahun ini, "termasuk Konferensi Peninjauan NPT Kesebelas pada Bulan April, dan Konferensi Peninjauan Pertama Perjanjian tentang Pelarangan Senjata Nuklir pada Bulan November."
"Meskipun berbeda dalam pendekatan, keduanya memiliki tujuan yang sama: menghilangkan ancaman dari senjata pemusnah massal dan memperkuat keamanan global," tandas Menlu RI.
BACA JUGA:
Menlu Sugiono dalam pertemuan kali ini juga mengatakan, "keamanan sejati tidak dapat dibangun hanya melalui pencegahan, tetapi melalui kepercayaan, pengendalian diri, dan dialog. Perlucutan senjata bukan hanya kewajiban hukum. Ini adalah keharusan moral dan strategis."
"Di dunia yang penuh ketidakpastian, penundaan membawa risiko yang semakin besar yang tidak mampu kita tanggung. Nasib masa depan kita bergantung pada pilihan yang kita buat hari ini," jelas Menlu RI.
"Indonesia siap bekerja sama dengan semua delegasi untuk memulihkan momentum, membangun kembali kepercayaan, dan memastikan konferensi ini memenuhi mandatnya," pungkasnya.