Bagikan:

JAKARTA — Wakil Ketua Komisi X DPR RI Lalu Hadrian Irfani, menanggapi hasil survei Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Penguatan Karakter yang menunjukkan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak signifikan terhadap peningkatan konsentrasi dan fokus belajar siswa. Ia menilai, hasil survei tersebut harus menjadi penyemangat bagi pemerintah untuk semakin gencar dalam melaksanakan dan memperluas cakupan Program MBG.

“Data ini menunjukkan bahwa pemenuhan gizi memiliki korelasi langsung dengan kualitas pembelajaran. Program MBG bukan sekadar bantuan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ujar Lalu kepada wartawan, Jumat, 20 Februari.

Meski begitu, Lalu mengingatkan bahwa pelaksanaan program MBG harus terus dievaluasi secara menyeluruh. Sebab berbagai kekurangan masih ditemukan di lapangan, seperti makanan basi maupun kasus keracunan.

Menurut Lalu, kekurangan tersebut harus bisa dicegah dan diantisipasi dengan sistem pengawasan yang lebih ketat. “Perbaikan harus terus dilakukan. Jangan sampai program yang tujuannya sangat baik justru menimbulkan persoalan baru. Standar keamanan pangan, distribusi, hingga pengawasan harus diperkuat,” tegasnya.

Lalu menyatakan, Komisi X DPR RI terus mendorong Kemendikdasmen agar aktif memberikan masukan dan rekomendasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan teknis MBG, sehingga kualitas program semakin baik dan tepat sasaran.

Ia juga berharap, sinergi antar kementerian dan lembaga dapat memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan optimal, berkelanjutan, serta benar-benar memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia.

"Termasuk di wilayah tertinggal dan Indonesia Timur," imbuh Legislator PKB dari Dapil NTB itu.

Sebagai informasi, survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), khususnya kebiasaan makan sehat dan bergizi ini dilakukan pada tahap baseline Mei–Juni 2025 hingga November–Desember 2025 dengan melibatkan 1.203.309 responden siswa secara nasional.

Hasil survei menunjukkan bahwa sekolah penerima MBG mencatat rata-rata penurunan gangguan belajar akibat lapar sebesar 2,37 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum menerima program tersebut.

Bahkan, di wilayah Indonesia Timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG tercatat 14,85 poin persentase lebih besar dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan MBG.