JAKARTA - Badan anak-anak PBB mengatakan pada Hari Selasa, mereka untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun berhasil mengirimkan perlengkapan sekolah berisi bahan pembelajaran ke Jalur Gaza setelah sebelumnya diblokir oleh otoritas Israel.
Ribuan perlengkapan, termasuk pensil, buku latihan, dan kubus kayu untuk bermain, kini telah masuk ke wilayah tersebut, kata UNICEF.
"Dalam beberapa hari terakhir, kami telah menerima ribuan perlengkapan rekreasi, ratusan perlengkapan sekolah dalam kotak. Kami sedang mempertimbangkan untuk menerima 2.500 perlengkapan sekolah lagi dalam minggu depan, karena telah disetujui," kata juru bicara UNICEF James Elder, melansir Al Arabiya dari Reuters (28/1).
Anak-anak di Gaza menghadapi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap sistem pendidikan, serta pembatasan masuknya beberapa bahan bantuan, termasuk buku sekolah dan pensil, yang berarti para guru harus berhemat dengan sumber daya yang terbatas, sementara anak-anak mencoba belajar di malam hari di tenda tanpa penerangan, kata Elder.
Sementara itu, COGAT, badan militer Israel yang mengawasi aliran bantuan ke Jalur Gaza, tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Selama konflik, beberapa anak sama sekali tidak mendapatkan pendidikan, menghadapi tantangan mendasar seperti mencari air, serta kekurangan gizi yang meluas, di tengah krisis kemanusiaan yang besar.
"Ini merupakan dua tahun yang panjang bagi anak-anak dan bagi organisasi seperti UNICEF untuk mencoba melakukan pendidikan tanpa bahan-bahan tersebut. Tampaknya kita akhirnya melihat perubahan nyata," jelas Elder.
UNICEF meningkatkan program pendidikannya untuk mendukung setengah dari anak-anak usia sekolah - sekitar 336.000 anak - dengan dukungan pembelajaran.
Pengajaran sebagian besar akan dilakukan di tenda-tenda, kata Elder, karena kerusakan luas pada bangunan sekolah di wilayah tersebut selama perang yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023.
Setidaknya 97 persen sekolah mengalami kerusakan, menurut penilaian satelit terbaru oleh PBB pada Bulan Juli.
Israel sebelumnya menuduh Hamas dan kelompok militan lainnya secara sistematis menyusup ke daerah dan bangunan sipil, termasuk sekolah, dan menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia.
Elder mengungkapkan, sebagian besar ruang belajar yang didukung oleh UNICEF akan berada di daerah tengah dan selatan wilayah tersebut, karena masih sulit untuk beroperasi di utara, yang sebagiannya hancur parah pada bulan-bulan terakhir konflik.
Diketahui, serangan militan Palestina yang dipimpin Hamas pada Oktober 2023 menewaskan 1.200 orang, menurut perhitungan Israel.
BACA JUGA:
Serangan balasan yang kemudian menjadi operasi militer Israel di Gaza telah menewaskan 71.662 orang dan melukai 171.428 orang, menurut media Palestina WAFA Hari Selasa.
Sejak gencatan yang disepakati 10 Oktober lalu, sedikitnya 488 orang tewas dan 1.350 lainnya terluka.
Sedangkan menurut data resmi, UNICEF menyatakan lebih dari 20.000 anak dilaporkan tewas, termasuk 110 anak sejak gencatan senjata 10 Oktober tahun lalu.