Bagikan:

PADANG PANJANG — Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengaktifkan kembali Rumah Puisi Taufiq Ismail di Padang Panjang, Sabtu, 24 Januari. Ruang sastra yang berdiri sejak 2008 itu kini ditegaskan fungsinya sebagai Museum Sastra Indonesia, pusat dokumentasi karya dan jejak sejarah kesusastraan nasional.

Fadli menekankan kegiatan ini bukan peresmian baru, melainkan penguatan fungsi ruang publik yang sudah lama hidup. Rumah Puisi dinilai memiliki rekam jejak panjang sebagai tempat pertemuan sastrawan, budayawan, dan seniman dari berbagai negara. Sejak tahun lalu, ruang ini berkembang tak hanya sebagai rumah puisi Taufiq Ismail, tetapi sebagai museum sastra.

Menurut Fadli, museum memuat ribuan karya dan memorabilia, mulai perpustakaan sastra Indonesia, mesin ketik sastrawan, tulisan tangan H.B. Jassin, hingga arsip rekaman pembacaan puisi. Ia menilai model rumah sastrawan seperti ini lazim di berbagai negara sebagai pusat edukasi dan destinasi budaya.

Taufiq Ismail menyebut transformasi ini memperluas fungsi Rumah Puisi sebagai rumah ingatan peradaban. Ia berharap tempat itu menjadi sumber ilmu dan inspirasi, terutama bagi generasi muda Sumatra Barat.

Aktivasi ini juga dipandang strategis di tengah tantangan literasi dan minimnya ruang publik sastra. Pemerintah mendorong Rumah Puisi Taufiq Ismail berkembang sebagai kantong budaya yang produktif, bukan sekadar ruang simpan arsip.

Peresmian dihadiri pejabat Pemprov Sumbar, Pemkot Padang Panjang, anggota DPRD, serta pegiat seni. Kementerian Kebudayaan melalui direktorat terkait turut mendukung penguatan fasilitas dan pengelolaan ruang budaya ini.