JAKARTA - Dokter forensik dari Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, dr Arfi Syamsun membeberkan luka penyebab kematian Brigadir Muhammad Nurhadi pada sidang lanjutan kasus pembunuhan anggota polisi itu di Pengadilan Negeri Mataram.
Arfi Syamsun menerangkan dirinya melakukan autopsi jenazah Brigadir Muhammad Nurhadi atas permintaan penyidik Polda NTB pada 1 Mei 2025.
"Itu sekitar dua pekan setelah kejadian. Saya melakukan otopsi dari proses ekshumasipadatanggal 1 Mei 2025," katanya dilansir ANTARA, Kamis, 22 Januari.
Arfi Syamsun menunjukkan data autopsi jenazah Brigadir Muhammad Nurhadi ke hadapan majelis hakim yang diketuai Lalu Moh. Sandi Iramaya.
Diamemeriksa luka-luka yang ada di sekujur jasad anggota Bidang Propam Polda NTB tersebut, baik yang nampak dari luar maupun daalam jasad.
"Luka-luka yang saya lihat dari pemeriksaan luar itu ada yang luka memar dan ada luka lecet tekan," ujarnya.
Untuk pemeriksaan bagian dalam, Arfi Syamsun memeriksa pada bagian otak dan paru-paru korban, mengingat Nurhadi sempat tenggelam di dasar kolam kecil sebelum akhirnya dinyatakan meninggal.
Arfi menyebut ada temuan luka fatal yang diduga menjadi pemicu Nurhadi meninggal, yakni pendarahan pada bagian leher belakang dan patah tulang lidah.
"Kalau otaknya sudah seperti bubur, hitam pekat. Dalam paru-paru ada resapan air, kalau tulang rusuk normal," papar dia.
Arfi menyampaikan hal tersebut berdasarkan hasil uji sampel yang diambil pada seluruh organ dalam dengan merujuk hasil visum pertama.
"Sampel paru-paru, sampel otak, ginjal, hati, semua saya ambil dan lakukan pemeriksaan di kampus. Sepekan kemudian hasilnya keluar," kata Arfi.
Dengan hasil pemeriksaan tersebut, ia menyimpulkan Nurhadi meninggal akibat kemasukan air dalam saluran pernapasan.
"Saya mengatakan sebab kematiannya adalah masuknya air ke dalam paru-paru atau tenggelam, itu yang saya bahasakan," ujarnya.
Ia juga menyatakan dalam berita acara pemeriksaan Nurhadi meninggal akibat adanya perbuatan kekerasan akibat benturan dari benda tumpul pada area leher bagian belakang dan kepala.
"Yang fatal itu patah tulang lidah dan pendarahan di leher belakang," kata Arfi.