JAKARTA - Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan pada Hari Senin, diskusi yang tenang antara sekutu diperlukan mengenai Greenland, mencatat perang dagang bukanlah kepentingan siapa pun, setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa yang tidak sejalan mengenai keinginannya menguasai wilayah otonom Denmark itu.
PM Starmer mengatakan dalam konferensi pers pada Hari Senin, aliansi dengan Amerika Serikat telah memberikan keamanan dan kemakmuran bagi Inggris selama beberapa dekade, dengan Ia akan berupaya untuk mempertahankan hubungan tersebut dan meredakan ketegangan di sekitar Greenland yang telah menimbulkan keraguan tentang masa depan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Namun, Ia mengatakan ancaman Presiden Trump untuk memberlakukan tarif yang meningkat pada Inggris dan sekutu Eropa sampai AS diizinkan untuk memiliki Greenland adalah salah.
PM Inggris menekankan, masa depan Greenland harus diputuskan oleh rakyatnya dan Denmark saja, dan bahwa aliansi bersejarah harus tetap bertahan.
"Tarif tidak seharusnya digunakan terhadap sekutu dengan cara ini," kata PM Starmer, menambahkan Inggris akan bersikap pragmatis dan tidak pasif, tetapi Ia tidak bermaksud untuk meningkatkan perang tarif pada saat ini, seperti melansir Al Arabiya dari Reuters (20/1).
"Perang tarif tidak menguntungkan siapa pun, dan kita belum sampai pada tahap itu. Oleh karena itu, fokus saya adalah memastikan kita tidak sampai pada tahap itu," tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Trump telah mengancam akan mengenakan tarif pada delapan negara yang mengirimkan sejumlah kecil personel militer ke Greenland pekan lalu, menyusul pernyataan berulang Presiden Trump bahwa ia ingin mengambil alih pulau Arktik Denmark yang luas itu.
Presiden Trump mengatakan penting bagi AS menguasai Greenland untuk alasan keamanan nasional, serta menyebut ancaman dari Rusia dan China yang hadir di kawasan Arktik.
Pada Hari Sabtu, Presiden Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada Inggris, Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda dan Finlandia pada tanggal 1 Februari, dengan tarif meningkat menjadi 25 persen pada tanggal 1 Juni, karena penentangan mereka terhadap kendali AS atas Greenland, dikutip dari Anadolu.
PM Starmer mengungkapkan telah berbicara dengan Presiden Trump pada Hari Minggu, mengatakan kepadanya pasukan tersebut "jelas berada di sana untuk menilai dan mengatasi risiko dari Rusia".
Ia mengatakan ia berharap sekarang ada "kejelasan nyata" tentang hal itu.
Saran PM Starmer bahwa Inggris tidak akan membalas tarif AS bertentangan dengan respons Uni Eropa, di mana para pejabat telah membahas opsi untuk merespons, termasuk paket tarif atas impor AS senilai 93 miliar euro (107,7 miliar dolar AS).
PM Inggris mengatakan ancaman tersebut berisiko menyebabkan "spiral penurunan" bagi Inggris, dalam hal perdagangan dan pelemahan aliansi.
BACA JUGA:
"Saya tidak ingin melihat itu terjadi," katanya, tetapi ia menambahkan: "Itu tidak berarti bahwa kita mengesampingkan prinsip-prinsip kita." dan nilai-nilai kita. Justru sebaliknya, kita sangat jelas tentang apa nilai-nilai itu."
Diketahui, PM Starmer telah membangun hubungan yang solid dengan Presiden Trump. Mei tahun lalui, Ia menjadi pemimpin pertama yang mengamankan kesepakatan untuk menurunkan beberapa tarif.
Ketika ditanya apakah ia berpikir Presiden Trump benar-benar mempertimbangkan tindakan militer, PM Starmer berkata: "Sebenarnya tidak. Saya pikir ini dapat diselesaikan dan harus diselesaikan melalui diskusi yang tenang."