PEKALONGAN - Memasuki hari keempat, Senin 19 Januari, bencana banjir di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menunjukkan anomali. Meskipun elevasi air pada sejumlah titik mulai berangsur surut, luasan wilayah terdampak justru mengalami ekspansi hingga melumpuhkan hampir dua pertiga wilayah kota.
Kondisi terparah terkonsentrasi di wilayah Tirto Baru dengan ketinggian air masih mencapai 1,5 meter. Di wilayah ini, permukaan air dilaporkan turun sekitar 20 sentimeter setelah dua unit pompa pengendali banjir dioperasikan secara masif serta perbaikan darurat pada tanggul yang sempat jebol.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekalongan Budi Suheryanto menjelaskan, banjir dipicu oleh akumulasi curah hujan ekstrem sejak akhir pekan lalu yang diperparah oleh limpasan air dari wilayah hulu.
"Selain itu, kerusakan infrastruktur tanggul di kawasan belakang PM dan keterbatasan sistem drainase mempercepat distribusi air ke wilayah yang sebelumnya kering," kata Budi Senin 19 Januari.
Eskalasi luasan banjir memicu lonjakan jumlah pengungsi secara drastis dari 972 orang menjadi 2.400 jiwa. Tercatat sedikitnya 14.000 rumah terdampak, memaksa otoritas setempat menambah titik pengungsian dari sembilan menjadi 24 lokasi.
BACA JUGA:
Hingga kini, akses transportasi di permukiman masih terputus total, dan warga diimbau tetap bertahan di posko darurat guna menghindari risiko korsleting listrik dan penyakit menular.
"Genangan mulai menyusut karena hujan mereda dan pompa bekerja maksimal, namun rumah-rumah warga masih terendam. Belum ada pengungsi yang berani kembali ke rumah," ujar M Zikron, salah satu warga terdampak.