JAKARTA - Kepala Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Hari Selasa mengungkapkan keterkejutannya dengan "meningkatnya kekerasan yang dilakukan oleh pasukan keamanan" terhadap demonstran anti-pemerintah di Iran.
Dalam sebuah pernyataan Volker Turk mendesak pihak berwenang Iran untuk "segera menghentikan semua bentuk kekerasan dan penindasan terhadap demonstran damai, memulihkan akses penuh ke internet dan layanan telekomunikasi, dan memastikan pertanggungjawaban atas pelanggaran hak asasi manusia yang serius."
"Pembunuhan terhadap demonstran damai harus dihentikan, dan pelabelan demonstran sebagai 'teroris' untuk membenarkan kekerasan terhadap mereka tidak dapat diterima," kata Turk, dilansir dari Anadolu (14/1).
Merujuk pada protes nasional sebelumnya, ia mengatakan: "Seperti yang kita lihat baru-baru ini pada tahun 2022, sebagian besar penduduk Iran telah turun ke jalan, menuntut perubahan mendasar dalam pemerintahan negara mereka."
"Sekali lagi, reaksi pihak berwenang adalah menggunakan kekerasan brutal untuk menekan tuntutan perubahan yang sah," tambahnya.
Turk memperingatkan, "siklus kekerasan yang mengerikan ini tidak dapat berlanjut."
"Rakyat Iran dan tuntutan mereka akan keadilan, kesetaraan, dan kebenaran harus didengar," katanya, menyerukan agar semua pembunuhan dan pelanggaran diselidiki sesuai dengan norma hak asasi manusia internasional, dan mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.
Menurut pernyataan tersebut, beberapa rumah sakit dilaporkan kewalahan menangani korban, termasuk anak-anak, sementara pemadaman internet dan telekomunikasi di seluruh negeri telah menghambat upaya verifikasi. Ada juga laporan bahwa anggota pasukan keamanan telah tewas, tambahnya.
"Rakyat Iran berhak untuk berdemonstrasi secara damai," tegas Turk.
"Keluhan mereka perlu didengar dan ditangani, dan tidak dimanfaatkan oleh siapa pun," tandasnya.
Iran telah mengalami protes anti-pemerintah yang meluas sejak bulan lalu, didorong oleh memburuknya perekonomian dan runtuhnya mata uang nasional secara historis.
Otoritas Iran menuduh AS dan Israel mendukung apa yang mereka sebut sebagai "perusuh bersenjata" di negara tersebut.
Meskipun angka korban resmi belum dirilis, Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di AS memperkirakan bahwa setidaknya 646 orang telah meninggal, termasuk pasukan keamanan dan demonstran, dengan lebih dari 1.000 orang terluka.
BACA JUGA:
HRANA juga melaporkan sedikitnya 10.721 orang telah ditahan di 585 lokasi demonstrasi di seluruh negeri, yang mencakup 187 kota di seluruh 31 provinsi.
Kemarin, seorang pejabat Iran mengatakan kepada Reuters, sekitar 2.000 orang tewas, termasuk personel keamanan, dalam protes yang berkembang menjadi kerusuhan di Iran, kali pertama otoritas setempat menyebutkan jumlah korban tewas dalam protes yang sudah berlangsung selama dua minggu.
Pejabat tersebut mengatakan apa yang disebutnya teroris berada di balik kematian para demonstran dan personel keamanan, kendati tidak memberikan rincian siapa saja yang tewas.