Bagikan:

JAKARTA - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan pada Hari Senin, lebih dari 18.500 orang masih membutuhkan evakuasi medis mendesak dari Jalur Gaza, Palestina, mendesak negara-negara untuk membuka pintu mereka bagi lebih banyak pasien.

"Minggu lalu, WHO mendukung evakuasi medis 18 pasien dan 36 pendamping dari Gaza ke Yordania, untuk perawatan trauma dan pengobatan kanker, gangguan pencernaan, ginjal, imunologi, dan kondisi serius lainnya," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam unggahan di platform media sosial X, melansir Anadolu (13/1).

Mengucapkan terima kasih kepada Yordania atas solidaritasnya yang berkelanjutan dan atas kesediaannya menerima pasien yang membutuhkan perawatan medis penyelamat jiwa ini, ia mengatakan: "Sejak Oktober 2023, lebih dari 10.700 pasien telah dievakuasi dari Gaza untuk perawatan khusus di lebih dari 30 negara. Namun, lebih dari 18.500 orang, termasuk 4.000 anak-anak, masih sangat membutuhkan evakuasi medis."

"WHO menyerukan lebih banyak negara untuk membuka pintu mereka bagi pasien dari Gaza dan agar evakuasi ke Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, dipulihkan," katanya.

Sementara itu, media Palestina WAFA pada Hari Selasa melaporkan, jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 71.424 jiwa, sementara 171.324 lainnya terluka sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023.

Sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, karena tim ambulans dan penyelamat belum dapat menjangkau mereka.

Sumber tersebut juga mengungkapkan, total korban tewas sejak gencatan senjata pada 11 Oktober telah meningkat menjadi 447 orang, sementara total korban luka menjadi 1.246, dengan 697 jenazah telah ditemukan.

Mereka juga mencatat kematian seorang anak berusia satu tahun akibat cuaca dingin ekstrem, sehingga jumlah kematian anak akibat cuaca dingin sejak awal musim dingin menjadi tujuh.

Selain itu, tiga warga sipil meninggal akibat runtuhnya bangunan, sehingga jumlah total korban runtuhan bangunan menjadi 24 jiwa.