JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan Amerika Serikat, negaranya siap berperang jika Washington ingin "menguji" kesiapan Iran, setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan militer sebagai tanggapan atas tindakan keras Iran terhadap protes anti-pemerintah.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Arabic pada Hari Senin Menlu Araghchi mengatakan, saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka di tengah gejolak yang sedang berlangsung, tetapi menekankan negaranya "siap untuk semua opsi", mengklaim Tehran Iran sekarang memiliki "kesiapan militer yang besar dan luas" dibandingkan dengan perang 12 hari tahun lalu.
Komentarnya menyusul pernyataan Presiden Trump pada Hari Minggu, di tengah protes nasional di Iran yang dipicu oleh kesulitan ekonomi yang telah meningkat menjadi seruan yang lebih luas untuk perubahan sistemik.
Presiden AS mengatakan dia sedang mempertimbangkan "opsi kuat" untuk Iran atas tindakan keras kepemimpinannya terhadap protes, termasuk potensi tindakan militer.
Presiden Trump mengatakan pertemuan sedang diatur dengan Tehran untuk bernegosiasi tentang program nuklirnya, "tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan tersebut."
"Jika Washington ingin menguji opsi militer yang telah diuji sebelumnya, kami siap untuk itu," kata Menlu Araghci, menambahkan ia berharap AS akan memilih "opsi bijak" dialog, sambil memperingatkan tentang "mereka yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang untuk melayani kepentingan Israel," melansir Al Jazeera (13/1)
Menlu Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera Arabic, komunikasinya dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff telah "berlanjut sebelum dan sesudah protes dan masih berlangsung".
Ia mengatakan ide-ide yang telah dibahas dengan Washington sedang dipelajari di Teheran.
Namun, ia menambahkan, "ide-ide dan ancaman yang diusulkan Washington terhadap negara kami tidak sesuai."
"Kami siap untuk duduk di meja perundingan nuklir, asalkan tanpa ancaman atau perintah," tegas Menlu Araghchi, mempertanyakan apakah Washington "siap untuk negosiasi yang adil dan merata".
"Ketika sudah siap, kami akan mempertimbangkan masalah ini dengan serius," katanya.
Dalam wawancara tersebut, Menlu Araghchi menyinggung jumlah korban tewas yang terus meningkat, mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa "unsur-unsur teroris" telah "menyusup ke kerumunan demonstran dan menargetkan pasukan keamanan dan demonstran."
Iran telah menyalahkan AS dan Israel karena memprovokasi kerusuhan di negara itu selama dua minggu terakhir.
Lebih dari 100 personel keamanan telah tewas dalam beberapa hari terakhir, menurut laporan media pemerintah, sementara aktivis oposisi mengatakan jumlah korban tewas lebih tinggi dan termasuk ratusan demonstran. Al Jazeera belum dapat memverifikasi angka-angka tersebut secara independen.
Belakangan, Gedung Putih mengungkapkan Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan serangan udara ke Iran atas klaimnya demi menghentikan penindasan terhadap demonstran di negara itu.
BACA JUGA:
Sekretaris Pers Karoline Leavitt mengatakan, dalam diskusi dengan utusan khusus Trump, Steve Witkoff, Trump mengatakan jalur diplomasi AS tetap terbuka, dengan Iran mengambil "nada yang jauh berbeda".
“Satu hal yang sangat dikuasai Presiden Trump adalah selalu mempertahankan semua opsi yang tersedia. Dan serangan udara akan menjadi salah satu dari banyak opsi yang tersedia bagi panglima tertinggi,” kata Leavitt kepada wartawan di luar Sayap Barat Gedung Putih, dikutip dari AFP.
"Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama bagi presiden," sambungnya.
"Apa yang Anda dengar secara publik dari rezim Iran sangat berbeda dari pesan-pesan yang diterima pemerintah secara pribadi, dan saya pikir presiden tertarik untuk mengeksplorasi pesan-pesan tersebut," tambah Leavitt.