JAKARTA - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan Sekolah Rakyat (SR), karena pemerintah juga menargetkan merenovasi minimal 60.000 bangunan sekolah pada tahun 2026.
Prasetyo menegaskan pemerintah juga terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru, dan melengkapi sekolah-sekolah dengan peralatan belajar mengajar yang mutakhir, yaitu dengan mengirimkan papan tulis interaktif (IFP) ke sekolah-sekolah di berbagai daerah Indonesia.
"Di awal ide Sekolah Rakyat ini banyak pihak yang menyangsikan, tetapi kita terus berupaya, karena kita meyakini di satu sisi, sekolah-sekolah yang normal terus kita perbaiki. Tahun ini, kita targetkan akan kita renovasi minimal 60.000 sekolah," kata Prasetyo dilansir ANTARA, Senin, 12 Januari.
"Guru-guru juga terus kita perbaiki (kesejahteraannya, red.). Fasilitas pembelajaran juga terus kita perbaiki, salah satunya dengan kita membagikaninteractive (flat) panelke seluruh sekolah," sambung Prasetyo.
Pras -- sapaan akrab Prasetyo, menerangkan pada tahun 2025 pemerintah telah menyalurkan papan tulis pintar itu ke 288.000 sekolah di berbagai daerah Indonesia.
Sementara itu, terkait dengan pembangunan Sekolah Rakyat, Pras menegaskan SR merupakan salah satu strategi pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan.
"Kita harus berpikir berani, dan berpikirout of the boxuntuk memutus mata rantai kemiskinan. Kita tidak bisa menunggu. Oleh karena itulah kita memberanikan diri untuk mewujudkan Sekolah Rakyat ini, dan hari ini, di Banjarbaru, kita memanfaatkan fasilitas dari Kementerian Sosial yang kita miliki, yang sekarang sudah bisa operasional di 166 sekolah," kata Pras.
Pras menyebut pemerintah pada tahun 2026 menargetkan membangun Sekolah Rakyat di 104 lokasi.
"Mohon doa restunya, supaya kita di tahun ini akan membangun di 104 titik, Sekolah Rakyat yang ideal supaya proses pembangunan lancar, dan akan menampung lebih banyak lagi adik-adik kita yang bisa mengenyam pendidikan," ujar Pras.