Bagikan:

JAKARTA - Pidato politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam Rapat Kerja Nasional I di Jakarta, Sabtu 10 Januari, memuat sorotan tajam terhadap geopolitik global dan krisis ekologi. Megawati secara terbuka mengecam praktik neokolonialisme yang mengancam kedaulatan negara-negara berkembang.

Akademisi sekaligus pengamat politik Rocky Gerung menilai narasi Megawati melampaui isu domestik. Ia menyoroti keberanian Megawati mengangkat kasus tekanan Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro sebagai pengingat akan prinsip kemerdekaan nasional.

"Megawati menekankan terlarangnya sebuah negara adidaya mengambil alih kepemimpinan negara berdaulat. Ini soal tertib internasional yang dikotori arogansi kekuasaan," ujar Rocky di Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara.

Menurut Rocky, tema tersebut relevan dengan konstitusi Indonesia yang menolak segala bentuk penjajahan. Ia menilai Megawati sedang mengirimkan pesan konsistensi terhadap hak setiap bangsa untuk menjalankan pemerintahan tanpa intervensi pihak asing.

Selain urusan kedaulatan, aspek kelestarian alam menjadi poin krusial dalam pidato tersebut. Megawati mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan hidup merupakan ancaman nyata bagi keberlanjutan peradaban manusia. Pesan ini ditujukan khusus bagi generasi muda agar lebih peduli terhadap perlindungan ekosistem.

"Merayakan lingkungan berarti mengingatkan bahwa merusak alam sama saja dengan menghancurkan masa depan peradaban kita sendiri," kata Rocky menambahkan.

Rakernas I PDI Perjuangan ini mengusung tema Satyam Eva Jayate atau kebenaran pasti menang. Melalui pidato tersebut, partai berlambang banteng ini tampak ingin mempertegas posisi ideologisnya di panggung dunia.

Rocky mengaku terkesan dengan kejernihan dan keberanian isu yang diangkat. Bagi dia, narasi yang disampaikan Megawati menunjukkan kematangan dalam merespons isu strategis, mulai dari solidaritas internasional hingga penyelamatan lingkungan global.