JAKARTA - Kelompok militan Palestina Hamas mengatakan pada Hari Selasa, rencana gencatan senjata Gaza tidak dapat dilanjutkan ke tahap kedua selama pelanggaran Israel terus berlanjut, meminta para mediator untuk menekan Israel agar menghormati perjanjian tersebut.
Gencatan senjata yang disponsori Amerika Serikat, Mesir, Qatar dan Turki yang berlaku sejak 10 Oktober, menghentikan perang yang dimulai setelah serangan mematikan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Namun, gencatan senjata tersebut masih rapuh karena Israel dan Hamas hampir setiap hari saling menuduh melakukan pelanggaran.
Anggota biro politik Hamas Hossam Badran menuduh Israel gagal menghormati kesepakatan gencatan senjata Gaza, dengan mencatat, berdasarkan ketentuannya, Israel seharusnya membuka kembali penyeberangan Rafah dengan Mesir dan meningkatkan volume bantuan yang masuk ke wilayah tersebut.
Ia mendesak para mediator, yang meliputi Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat, untuk menekan Israel "agar menyelesaikan implementasi fase pertama perjanjian gencatan senjata," seperti melansir Al Arabiya dari AFP (10/12).
Di sisi lain, berdasarkan ketentuan kesepakatan, militan Palestina berkomitmen untuk membebaskan 48 tawanan hidup dan mati yang tersisa di wilayah tersebut. sejuh ini, tinggal satu jenazah sandera yang belum berhasil dikembalikan Hamas.
Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina yang berada di tahanannya dan mengembalikan jenazah ratusan warga Palestina yang telah meninggal.
Selain itu, fase pertama gencatan senjata juga menetapkan bahwa lebih banyak bantuan akan masuk ke Gaza.
Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berharap fase kedua kesepakatan akan segera dimulai, tetapi Badran mengatakan hal itu tidak dapat dimulai "selama pendudukan (Israel) terus melakukan pelanggaran."
Tahap kedua dari rencana gencatan senjata menyangkut pelucutan senjata Hamas, penarikan lebih lanjut pasukan Israel sebagai otoritas transisi yang ditetapkan, dan pengerahan pasukan stabilisasi internasional.
Israel mengatakan fase selanjutnya tidak dapat dimulai sampai jenazah tawanan terakhir Gaza, Ran Gvili, warga Israel, diserahkan.
Tujuan akhir perjanjian ini adalah penarikan pasukan Israel dari Gaza secara bertahap jika persyaratan tertentu terpenuhi.
Hamas mengatakan siap menyerahkan persenjataannya kepada pemerintah Negara Palestina di masa depan dengan syarat pendudukan Israel berakhir.
BACA JUGA:
Perang Gaza dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang mengakibatkan kematian 1.221 orang dan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel.
Serangan balasan Israel terhadap Gaza telah menewaskan sedikitnya 70.366 orang, menurut data dari Kementerian Kesehatan wilayah tersebut yang dianggap dapat diandalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Kementerian tersebut mengatakan sejak gencatan senjata berlaku, 377 warga Palestina telah tewas oleh tembakan Israel. Militer Israel telah melaporkan tiga tentara tewas selama periode yang sama.