JAKARTA - Warisan sejarah dan budaya Gaza tak luput dari serangan udara Israel, dengan lebih dari 20.000 artefak langka, mulai dari era prasejarah hingga periode Ottoman, hilang dan dijarah.
"Tentara Israel telah secara sistematis dan ekstensif menghancurkan situs-situs arkeologi Gaza sebagai bagian dari kebijakan yang bertujuan menghapus identitas Palestina," ujar Ismail al-Thawabteh, kepala Kantor Media Pemerintah Gaza, kepada Anadolu Agency, seperti dikutip 1 Desember.
Data resmi menunjukan, pasukan Israel telah menghancurkan sebagian atau seluruh lebih dari 316 situs dan bangunan arkeologi di Jalur Gaza, sebagian besar berasal dari era Mamluk dan Ottoman, sementara yang lainnya berasal dari abad-abad awal Islam dan periode Bizantium.
Qasr al-Basha, istana era Mamluk yang dibangun di atas situs warisan UNESCO yang berasal dari tahun 800 SM, tak luput dari serangan sistematis Israel terhadap sejarah Gaza.
Terletak di lingkungan Al-Daraj di Kota Tua Gaza, 70 persen Istana Qasr al-Basha rusak akibat serangan Israel, menurut Hamouda al-Dahdar, pakar warisan budaya di Pusat Pelestarian Warisan Budaya di Betlehem, Tepi Barat yang diduduki.
Para teknisi dan pekerja terus mencari artefak yang berserakan di bawah reruntuhan, menggunakan peralatan sederhana untuk memulihkan dan melestarikan sisa-sisa identitas sejarah Gaza.
"Apa yang terjadi pada warisan Gaza bukan hanya kehancuran; itu adalah penjarahan terorganisasi, sebuah praktik yang dikriminalisasi berdasarkan hukum internasional dan dianggap sebagai serangan terhadap warisan budaya global," kata al-Thawabteh.
Ia menambahkan, lebih dari 20.000 artefak langka dari era prasejarah hingga periode Ottoman yang tersimpan di museum tersebut telah hilang selama perang Israel.
Dahdar juga mengonfirmasi hilangnya ribuan artefak langka dan beragam setelah pasukan Israel menyerbu dan menghancurkan situs tersebut.
"Setiap bagian dari artefak ini memiliki nilai sejarah yang signifikan dan mewakili satu bab dalam sejarah peradaban Palestina," kata Dahdar, menyebut penjarahan tersebut sebagai "kejahatan budaya serius yang memengaruhi identitas nasional dan warisan bersama umat manusia."
Dahdar mencatat, situs tersebut sebelumnya telah mengalami kerusakan parah selama operasi militer Israel sebelumnya sebelum penarikannya pada tahun 1994.
BACA JUGA:
Setelah penarikan Israel, Otoritas Palestina merestorasi istana tersebut dan mengubahnya menjadi museum yang memamerkan koleksi sejarah yang berharga.
Israel menduduki Jalur Gaza pada tahun 1967 dan mundur pada tahun 1994 berdasarkan Perjanjian Oslo 1993 dengan payung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Pada tahun 2005, Israel membongkar permukimannya di Gaza berdasarkan "Rencana Pelepasan" sepihaknya.
Terbaru, selama perang terakhir yang dimulai pada Oktober 2023, istana tersebut mengalami kehancuran dan penjarahan benda-benda arkeologinya.