JAKARTA - Presiden Taiwan Lai Ching-te pada Hari Rabu mengumumkan anggaran khusus sebesar 40 miliar dolar AS (Rp665.364.000.000.000) untuk pembelian senjata, termasuk membangun sistem pertahanan udara dengan kemampuan deteksi dan intersepsi tingkat tinggi yang disebut Taiwan Dome.
Anggaran tersebut akan dialokasikan selama delapan tahun, dari tahun 2026 hingga 2033, dan muncul setelah Lai berjanji untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari PDB pulau itu, sebagai bagian dari strateginya di tengah ancaman invasi Tiongkok, serta seiring tekanan AS terhadap pulau itu untuk meningkatkan anggaran pertahanannya.
"Ancaman Tiongkok terhadap Taiwan dan kawasan Indo-Pasifik semakin meningkat," kata Presiden Lai, melansir Al Arabiya dari Associated Press 27 November.
"Baru-baru ini, berbagai jenis intrusi militer, zona abu-abu maritim, dan kampanye disinformasi telah terjadi di Jepang, Filipina, dan di sekitar Selat Taiwan, yang menyebabkan keresahan dan tekanan mendalam bagi semua pihak di kawasan tersebut," urainya.
"Taiwan, sebagai bagian terpenting dan paling krusial dari rangkaian pulau pertama, harus menunjukkan tekad kita dan mengemban tanggung jawab yang lebih besar dalam membela diri," tandas Presiden Lai, merujuk pada rangkaian pulau yang membentang dari Laut China Timur di Jepang hingga Filipina di Samudra Pasifik.
Saat ini, Taiwan telah menetapkan peningkatan anggaran pertahanannya menjadi 3,3 persen dari PDB untuk tahun 2026, mengalokasikan 949,5 miliar dolar Taiwan (sekitar 31,18 miliar dolar AS).
Presiden Lai telah memberikan pratinjau pengumuman tersebut dalam sebuah opini di The Washington Post pada Hari Rabu, dengan mengatakan anggaran khusus tersebut akan digunakan untuk membeli senjata dari AS.
Namun, Ia mengatakan anggaran tersebut tidak ada hubungannya dengan negosiasi tarif pemerintah dengan AS.
Sedangkan Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan pada Hari Rabu, nilai 40 miliar dolar AS adalah batas atas untuk anggaran khusus tersebut dan akan digunakan untuk membeli rudal serang presisi dan berupaya untuk mengembangkan serta pengadaan bersama antara Taiwan dan AS dalam hal peralatan dan sistem.
BACA JUGA:
Terpisah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menuntut Taiwan untuk meningkatkan anggaran pertahanannya hingga 10 persen dari PDB, proporsi yang jauh di atas pengeluaran AS atau sekutu utamanya.
Departemen Luar Negeri AS pada Hari Rabu mengatakan menyambut baik pengumuman anggaran Taiwan dan "mendukung akuisisi Taiwan atas kapabilitas pertahanan yang krusial, sepadan dengan ancaman yang dihadapinya."
Mereka juga mengatakan menyambut baik komitmen pemerintahan Lai untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga setidaknya 5 persen dari PDB pada tahun 2030, "yang menunjukkan tekad untuk memperkuat kapabilitas pertahanan diri Taiwan."