BANDA ACEH - Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau pameran “Perang Aceh Melawan Penjajah Belanda 1873–1903” di Taman Gunongan, Senin (24/11). Pameran ini menjadi ruang edukasi publik untuk memahami salah satu babak paling heroik dalam sejarah Aceh dan Indonesia.
Pameran yang digelar Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I ini menampilkan artefak asli Perang Aceh, mulai dari perkakas perang, dokumen, hingga manuskrip ulama. Menbud Fadli menyebut kualitas pameran sangat kuat karena narasinya runut dan koleksinya relevan dengan memori perjuangan Aceh.
“Saya berterima kasih kepada MAPESA yang menghadirkan artefak-artefak mencerahkan. Ini bukan sekadar pameran seni, tetapi ruang belajar sejarah yang sangat penting,” ujar Fadli.
Ia menegaskan bahwa Perang Aceh Melawan Penjajah Belanda 1873–1903 adalah simbol perlawanan terhadap kolonialisme. Menurutnya, memahami kronologi perang secara visual akan membangun kesadaran generasi muda tentang pentingnya membela kedaulatan.
“Melihat artefak secara langsung membuat sejarah lebih hidup. Di satu ruangan saja kita dapat memahami peristiwa peperangan Aceh secara kronologis dari perspektif Indonesia sentris,” jelasnya.
BACA JUGA:
Pameran berlangsung 24–27 November dan digelar melalui kolaborasi Kementerian Kebudayaan, Museum Pedir Aceh, Aceh Darussalam Academy, dan Masyarakat Peduli Sejarah (MAPESA). Pengunjung diajak menelusuri rekonstruksi suasana Perang Aceh dengan latar Taman Gunongan.
Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Irdam Kodam Iskandar Muda Brigjen TNI Yudi Yulistyanto, dan Ketua MAPESA Mizuar Mahdi turut mendampingi peninjauan. Hadir pula Dirjen Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra dan jajaran kementerian.
Menbud berharap pameran ini menjadi wahana rekreasi sekaligus pendidikan sejarah. “Perang Aceh adalah salah satu perang paling heroik melawan kolonial Belanda. Semoga Taman Gunongan makin aktif sebagai ruang kebudayaan Aceh,” tutup Fadli.