JAYAPURA – Seorang ibu hamil bernama Irene Sokoy bersama bayi dalam kandungannya meninggal dunia pada Senin 17 November pagi di kawasan Entrop, Kota Jayapura. Peristiwa tragis ini terjadi setelah Irene diduga ditolak oleh empat rumah sakit dalam upaya mendapatkan pertolongan medis.
Menurut keterangan dari Kepala Kampung Hobong, Abraham Kabey, Irene mulai merasakan kontraksi berat di kampungnya, Kampung Hobong, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Minggu siang 16 November. Keluarga kemudian membawa Irene menggunakan speedboat ke RSUD Yowari di Kabupaten Jayapura.
Setibanya di RSUD Yowari, kondisi Irene semakin memburuk. Ia dilaporkan mengalami sesak napas dan janin belum juga tiba waktunya dilahirkan. Keluarga meminta rujukan namun proses pembuatan surat dinilai lambat. Ambulans baru tiba sekitar pukul 01.22 WIT.
Rujukan mengarahkan Irene ke RS Dian Harapan Waena, Kota Jayapura. Namun di rumah sakit tersebut keluarga mengaku kembali ditolak, dan hanya diberi ruangan yang gelap dan panas tanpa pelayanan memadai.
Kondisi kemudian membawa Irene ke RSUD Abepura, namun ditengarai pengabaian pelayanan hingga terjadi keributan antara keluarga dan petugas perawat karena dokter tidak berada di tempat.
Selanjutnya, ia dirujuk ke RS Bhayangkara, Kota Jayapura, yang menyatakan semua kamar BPJS penuh dan meminta uang muka Rp 4 juta untuk tindakan medis. Keluarga tidak memiliki dana, dan permintaan agar tindakan medis didahulukan ditolak. Mobil ambulans meninggalkan RS Bhayangkara sekitar pukul 03.30 WIT menuju RSUD Dok II Jayapura.
BACA JUGA:
Saat perjalanan, di kawasan Entrop, kondisi Irene kritis: mulutnya berbusa dan napas tersengal-sengal. Keluarga memutuskan kembali ke RS Bhayangkara, namun setibanya sekitar pukul 05.00 WIT, Irene dan bayi dalam kandungannya sudah tidak bisa diselamatkan.
Menanggapi kasus ini, Gubernur Papua Matius D. Fakhiri menyampaikan permohonan maaf dan menyebut kejadian tersebut sebagai “contoh kebobrokan pelayanan kesehatan” yang tak boleh terulang.
“Saya mohon maaf dan turut berduka yang mendalam atas kejadian dan kebodohan jajaran pemerintah mulai dari atas sampai ke tingkat bawah,” ucap Matius dalam keteranganya, Minggu 23 November.
Kasus ini menjadi sorotan tajam terkait masalah pelayanan kesehatan ibu hamil di daerah, terutama akses ke rumah sakit rujukan dan prosedur penanganan pasien emergensi.