JAKARTA - Para peneliti di University of California (UCLA) mencatat kenaikan muka air laut yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat menyebabkan 5.500 lokasi beracun di Amerika Serikat (AS) banjir dalam beberapa dekade mendatang.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmial Nature pada Kamis 20 November ini mengungkapkan, bahwa dalam skenario emisi gas rumah kaca yang tinggi, lebih dari 5.500 lokasi berbahaya di seluruh AS akan berisiko banjir sekali dalam 100 tahun pada tahun 2100.
Lokasi-lokasi berbahaya yang dimaksud dalam jurnal itu mencakup fasilitas yang menangani limbah, limbah beracun, minyak dan gas, polutan industri lainnya, serta bekas lokasi pertahanan.
Menurut studi tersebut, dari lokasi-lokasi yang berisiko, setidaknya 3.800 lokasi diproyeksikan akan banjir pada tahun 2050.
Profesor madya ilmu kesehatan lingkungan di UCLA dan penulis utama penelitian tersebut, Lara Cushing mengatakan kepada ABC News, bahwa banyak pesisir AS yang sangat terindustrialisasi karena berbagai alasan, termasuk akses ke bahan baku dan kedekatan dengan transportasi laut lepas.
Cushing menambahkan, dalam beberapa dekade terakhir, peristiwa banjir ekstrem yang disebabkan oleh badai seperti Badai Katrina pada tahun 2005, dan Badai Harvey pada tahun 2017 telah membanjiri fasilitas industri, melepaskan bahan kimia beracun ke dalam air banjir dan udara.
BACA JUGA:
Dalam penelitian ini, Cushing menuturkan para peneliti di UCLA menyusun basis data lokasi industri dan yang terkontaminasi, seperti instalasi pengolahan limbah, kilang minyak dan gas yang masih aktif, dan jenis fasilitas industri lainnya -- total hampir 50.000 lokasi di 23 negara bagian pesisir AS dan Puerto Riko.
Mereka kemudian memperkirakan risiko banjir di lokasi-lokasi tersebut untuk tahun 2050 dan 2100 dengan skenario emisi gas rumah kaca: emisi tinggi dan emisi sedang.
Penelitian tersebut juga menjabarkan negara bagian yang paling berisiko banjir di lokasi beracun antara lain Florida, New Jersey, California, Louisiana, New York, Massachusetts, dan Texas. Ketujuh negara bagian tersebut mencakup hampir 80 persen lokasi berbahaya yang berisiko pada tahun 2100.
"Hal ini memberi kita gambaran tentang di mana kita mungkin ingin memfokuskan upaya kita," kata Cushing.
Jika lokasi-lokasi ini banjir, kata dia, mereka dapat menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan masyarakat sekitar, menurut makalah tersebut.
Cushing bilang, infrastruktur terkait minyak, seperti kilang, pelabuhan, dan terminal, sangat berisiko karena kemungkinan tumpahan minyak tetapi juga karena bahan kimia yang digunakan untuk menyuling minyak.
Menurutnya, para peneliti juga menemukan bahwa penduduk di komunitas terpinggirkan kemungkinan akan terdampak banjir di lokasi beracun dengan tingkat yang lebih tinggi.