Bagikan:

JAKARTA -  Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima arkeolog sekaligus guru besar Flinders University, Martin Polkinghorne, di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Kamis, 20 November. Pertemuan ini menjadi langkah awal kolaborasi untuk menjajaki restitusi dan repatriasi Cagar Budaya Bawah Air Indonesia di Australia, sekaligus memetakan potensi multiplier dari projek tersebut.

Dalam audiensi itu, Martin memaparkan rencana kolaborasi bertajuk “Reuniting Orphaned Cargoes: Recovering Cultural Knowledge from Salvaged and Dispersed Underwater Cultural Heritage in Southeast Asia”. Projek ini berfokus pada tiga hal: mendukung restitusi benda Cagar Budaya Bawah Air ke lokasi asalnya dengan berkoordinasi dengan kementerian terkait, memperluas peluang studi arkeologi, serta membangun kapasitas museum untuk pelestarian dan penyajian koleksi guna memperkuat pariwisata budaya dan keberlanjutan masyarakat lokal.

Ajakan kolaborasi tersebut disambut Menbud. “Projek ini sejalan dengan apa yang dikerjakan oleh Kementerian Kebudayaan untuk restitusi, repatriasi, dan restorasi objek budaya yang merupakan milik Indonesia,” ujar Fadli Zon.

Martin menekankan pentingnya keberlanjutan Cagar Budaya Bawah Air, potensi pariwisata berkelanjutan, dampak bagi masyarakat lokal melalui lokakarya, serta pembangunan narasi baru tentang artefak keramik. Hal ini terkait banyaknya titik kapal karam di Nusantara yang berhubungan dengan jalur rempah.

“Flinders University menerima keramik peninggalan dari Indonesia. Kami juga mengembangkan program bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Koleksi di Adelaide kami teliti untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap warisan budaya dan jalur rempah Indonesia,” kata Martin.

Martin bersama Nia Naelul Hasanah Ridwan dan Zainab Tahir, arkeolog maritim Kementerian Kelautan dan Perikanan, telah meneliti sejumlah lokasi di Indonesia, antara lain Belitung dan Kepulauan Riau. Ke depan, ia ingin memperluas kerja sama dengan Kementerian Kebudayaan serta mengembalikan artefak yang kini berada di Australia ke Indonesia.

“Kami sangat terbuka untuk bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan, melanjutkan kolaborasi dengan lembaga lain dan universitas, serta memperluas jaringan dengan institusi pendidikan di Indonesia,” ujarnya.

Menanggapi pengembangan kapasitas museum maritim, Fadli Zon menegaskan Kementerian Kebudayaan memberi perhatian serius pada pengembangan ekosistem permuseuman secara menyeluruh. Menutup pertemuan, Menbud yang didampingi Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Dirjen Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, serta Direktur Diplomasi Kebudayaan Usman Effendi, mengarahkan agar linimasa program disesuaikan dengan gerak cepat kementerian dalam pelestarian warisan budaya.