Bagikan:

JAKARTA - Pimpinan DPR RI yang diwakili Wakil Ketua DPR Cucun Ahmad Syamsurijal menggelar pertemuan dengan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sony Sanjaya dan Ketua Umum Persatuan Ahli Gisi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta hari ini. 

Cucun menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan tindaklanjuti dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi IX DPR pada 12 November, guna percepatan pelaksanaan operasional di dapur-dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Ada di wilayah satu kabupaten kelebihan misalkan ada tenaga akuntan, di kabupaten lain kekurangan. Ada di satu kabupaten kebutuhan ahli gizi, di kabupaten lain kekurangan atau di provinsi lain. Nah Sehingga bahkan untuk tenaga kemarin itu, kesimpulannya kan di rapat RDP bahwa DPR dan BGN itu menyetujui bersama-sama untuk mencari solusi dari kelangkaan tenaga. Bukan hanya ahli gizi, kemarin disebut ahli gizi, akuntansi, juru masak, ya. Karena kita terus melakukan perbaikan, fungsi yang dilaksanakan oleh kami di DPR sudah berjalan dengan baik," ujar Cucun di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 17 November. 

Cucun mengungkapkan, DPR menemukan adanya dapur MBG yang belum berjalan saat kunjungan spesifik beberapa waktu lalu, sehingga anak-anak belum menerima manfaat program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu. 

"Sebetulnya hari ini, saya sampaikan bahwa, BGN dengan Persagi sudah mau akad nikah, sudah mau ada perjanjian kerja sama, menandatangani terkait hasil tindak lanjut rapat di Komisi IX. Kekurangan ahli gizi, mereka punya resource 53.000, tetapi nanti kita lihat pemetaannya. Apakah 53.000 yang ber-KTA Persagi ini sudah bekerja di mana, atau masih belum punya pekerjaan, atau fresh graduate yang mau keluar. Sebetulnya dapur kita sekarang sudah berjalan 15.000 sampai nanti akhir tahun 20.000, Pak Waka. Itu sudah bisa tertutupi kalau nanti dipetakan di mana yang berlebih dan di mana yang kurang. Jadi hari ini kami bersepakat, bahkan saya tadi dibilang saya menjadi pengurusnya untuk akad nikah ini dipercepat, biar tidak terjadi problematika tadi," kata Cucun. 

Sementara itu, Waka BGN Sony Sanjaya menjelaskan bahwa SPPG terdiri dari beberapa komponen. Salah satu komponen yang dari pusat atau pemerintah adalah kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan. Fenomena di lapangan, kata dia, dari 53 ribu anggota Persagi, sebanyak 16 ribu merupakan anggota aktif.

"Sehingga apabila fenomena ini terjadi di lapangan yaitu sulitnya dicari ahli gizi karena memang sudah mendekati. Angka SPPG operasional sekarang sudah menyentuh angka 14 ribu SPPG. Ahli gizi aktif ada 16 ribu, memang masih ada 2 ribu, tapi 2 ribu ini ada di mana? Susah, itulah yang dicari agak kesulitan. Sehingga kemudian ada rekomendasi dari hasil RDP kemarin, BGN harus mencari solusi," ungkap Sony. 

"Alhamdulillah siang ini dilakukan pertemuan dengan Persagi. Jadi kami menyampaikan bahwa kebutuhan setidaknya sampai akhir tahun ini, siap nggak ini Persagi memenuhi? Bila SPPG nanti mencapai 22 ribu saja, siap nggak? Bagaimana kekurangan 6 ribu ini dipenuhi? Apabila ternyata masih juga belum ada, apa solusinya yang harus dilakukan atau langkah apa yang harus dilakukan oleh BGN supaya tetap meskipun tidak seluruhnya sempurna pemenuhan itu, berdasarkan saran atau solusi dari Persagi, yang dilakukan oleh BGN itu masih tetap dalam kerangka yang memenuhi, tidak terlalu menyimpang," lanjutnya. 

Kedua, BGN mengimbau ahli gizi yang belum bergabung menjadi anggota Persagi untuk segera mendaftarkan diri agar BGN lebih mudah berkomunikasi ketika terjadi sesuatu berkaitan dengan etika dan lain-lain. 

"Kami hanya tinggal mengembalikan kepada pembina fungsi profesi bahwa ini terjadi hal demikian, kami serahkan. Saya imbau karena ini kaitannya dengan kode etik profesi, maka ketika ahli gizi sudah bekerja pada satu tempat di SPPG, jangan lagi karena ada tawaran lain-lain, ingin berpindah. Tetap berada di tempat itu karena ini berkaitan dengan sistem atau mekanisme penggajian," tuturnya. 

Sony menyampaikan bahwa seluruh ahli gizi yang mengerjakan program MBG diproyeksikan menjadi pegawai P3K, bahkan BGN ingin secepatnya melibatkan mereka dalam satu computer assessment test.

"Yang kedua, seluruh mitra yang akan tergabung menjadi mitra BGN itu selain menyiapkan bangunan SPPG, mereka juga diminta untuk menyediakan fasilitas akomodasi," ujarnya. 

"Jadi ini betul-betul profesi ahli gizi dalam program MBG kami betul- perhatikan supaya tujuanna adalah kualitas makanan yang dibagikan betul-betul disiapkan oleh ahli gizi yang memang nyaman bekerja dan memang sesuai dengan keilmuannya," imbuhnya. 

Pada kesempatan yang sama, Ketum Persagi Doddy Izwardy mengatakan, Persagi selalu berkomunikasi dengan BGN terkait penempatan ahli gizi. Ia menuturkan, pada Oktober lalu sudah ada perjanjian kerjasama atau MoU untuk menyusun langkah-langkah teknis di dalam pemenuhan ahli gizi.

"Ini penting yang kami lakukan bapak ibu karena kami menjaga keilmuannya. Karena apa, karena tujuan besar program ini adalah pemenuhan gizi di sasaran target yang sangat besar, sehingga akan ada perubahan status gizi di Indonesia," katanya. 

"Nah ini yang kami jaga supaya standar standar gizi, pemenuhan gizi, segala macam yang disiapkan di SPPG itu akan sampai kepada penerima target karena salah satu Indonesia itu menghadapi permasalahan gizi yang masih cukup tinggi," sambungnya.