JAKARTA - Provinsi Jawa Barat menempati posisi teratas dalam keberhasilan menurunkan angka prevalensi stunting tahun 2024, disusul Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting 2025 yang digelar di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu, 12 November.
Dalam laporan yang disampaikan, prevalensi stunting di Jawa Barat berhasil ditekan dari 21,7 persen pada 2023 menjadi 15,9 persen pada 2024. Sementara Sumatera Selatan turun dari 20,3 persen menjadi 16,8 persen, dan Sulawesi Selatan dari 27,4 persen menjadi 23,3 persen.
Adapun Provinsi Bali dinobatkan sebagai daerah dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia. Kabupaten Klungkung mencatat angka 5,1 persen, Gianyar 5,4 persen, dan Badung 7,2 persen.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memberikan apresiasi atas kerja keras berbagai pihak yang terlibat dalam program percepatan penurunan stunting nasional.
“Untuk pertama kalinya, angka stunting nasional berada di bawah 20 persen,” ujar Budi dalam sambutannya dikutip dari Antara.
Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional kini berada di angka 19,8 persen. Pemerintah menargetkan angka tersebut terus turun hingga 14 persen pada 2029, dan mencapai 5 persen pada 2045.
Budi menyebut capaian ini sebagai tonggak penting dalam upaya perbaikan gizi anak di Indonesia. Ia menjelaskan, stunting merupakan masalah gizi kronis yang menyebabkan berat badan dan tinggi badan anak di bawah standar normal.
Intervensi penurunan stunting dilakukan melalui dua pendekatan utama, yaitu program spesifik di sektor kesehatan dan sensitif di luar sektor kesehatan.
“Di luar kesehatan contohnya pencegahan perkawinan dini, kebersihan air, sanitasi, dan akses toilet layak. Sementara di sektor kesehatan, fokus kita memastikan gizi ibu hamil cukup dan mencegah anemia,” jelas Budi.
Ia menegaskan, sebagian besar kasus stunting berawal dari kondisi ibu selama masa kehamilan. Karena itu, pemenuhan gizi dan kesehatan ibu menjadi kunci utama dalam pencegahan stunting.
Budi juga mengingatkan pentingnya asupan protein hewani bagi anak setelah masa ASI eksklusif, terutama di usia 12–24 bulan.
BACA JUGA:
“Biasanya kenaikan angka stunting terjadi setelah anak berhenti ASI karena kurang asupan protein hewani, padahal di masa itu tubuh sangat membutuhkan nutrisi tersebut,” kata Menkes.