JAKARTA - Presiden China Xi Jinping mengundang Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk berkunjung ke negeri Tirai Bambu, Jumat 31 Oktober.
Hubungan China dengan Kanada termasuk yang terburuk di antara negara Barat mana pun, tetapi keduanya sama-sama terperangkap dalam sanksi tarif Pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Bahkan sanksi itu tetap mengikat China meski Xi bertemu dengan Trump sekitar 1 jam 45 menit di pangkalan udara di Busan, Korea Selatan, Kamis 30 Okotober.
“Baru-baru ini, dengan upaya bersama kedua belah pihak, hubungan China-Kanada telah menunjukkan pemulihan menuju tren perkembangan positif,” kata Xi kepada Carney saat mereka bertemu di KTT APEC 2025 di Korea Selatan, Jumat 31 Oktober, dikutip dari AFP.
“China bersedia bekerja sama dengan Kanada untuk mengembalikan hubungan China-Kanada ke jalur yang benar,” tambah Xi.
Membalas ajakan Xi, Carney mengatakan Kanada siap membuka “dialog yang konstruktif dan pragmatis” mengatasi “masalah terkini” China dan Kanada.
Carney juga menyebut dialog sebagai cara "untuk membantu membangun sistem internasional yang lebih berkelanjutan dan inklusif."
“Dalam beberapa tahun terakhir, kami belum begitu terlibat,” balas Carney menerima undangan Xi.
BACA JUGA:
Hubungan China-Kanada membeku sejak tahun 2018 setelah penangkapan seorang eksekutif senior telekomunikasi China atas surat perintah AS di Vancouver. China kemudian membalasnya dengan penahanan dua warga Kanada atas tuduhan spionase.
Pada Juli 2025, Kanada kembali menekan China. Carney mengumumkan tarif tambahan sebesar 25 persen untuk impor baja dilebur dan dituang dari China.
Bulan berikutnya, China mengumumkan mengenakan bea masuk sementara yang memberatkan sebesar 75,8 persen untuk impor kanola Kanada.
Kanada merupakan salah satu produsen kanola terbesar di dunia. Kanola adalah tanaman biji minyak yang digunakan untuk membuat minyak goreng, tepung hewan, dan bahan bakar biodiesel.
Meski demikian, Kanada dan China sama-sama menjadi sasaran utama serangan perdagangan global Trump.