JAKARTA - Seorang pria yang didakwa atas pembunuhan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada tahun 2022 mengaku bersalah pada dalam persidangan pertama yang digelar Hari Selasa.
Tetsuya Yamagami (45) mengatakan di Pengadilan Distrik Nara, "Itu benar. Tidak diragukan lagi saya yang melakukannya," seperti dikutip dari Kyodo News 28 Oktober.
Ia dituduh membunuh mendiang Abe dengan senjata api rakitan saat berpidato dalam kampanye pemilihan umum di Jepang bagian barat, tepatnya di dekat Stasiun Yamato-Saidaiji di Nara pada 8 Juli 2022
Persidangan kasus ini menuai sorotan pada apakah pengadilan akan memberikan keringanan hukuman, karena pembela berpendapat kepribadian dan perilaku tersangka dibentuk oleh pola asuh yang ditandai dengan pelecehan agama.
Menurut penasihat hukum, ibu Yamagami, seorang pengikut Gereja Unifikasi, menyumbangkan 100 juta yen kepada kelompok tersebut. Ia termasuk di antara 12 saksi yang dijadwalkan memberikan kesaksian menjelang putusan pengadilan pada 21 Januari.
Dalam persidangan, jaksa penuntut mengatakan Yamagami menyimpan dendam terhadap Gereja Unifikasi setelah ibunya menjadi pengikut dan melakukan kejahatan tersebut, dengan keyakinan menembak Abe akan menarik "perhatian dan kritik" terhadap kelompok tersebut.
Jaksa penuntut mengatakan, konsekuensi dari kejahatan tersebut "belum pernah terjadi sebelumnya" di Jepang pascaperang, dengan alasan masa kecil terdakwa yang sulit tidak boleh digunakan untuk membenarkan "pengurangan hukuman yang substansial."
Abe menjadi sasaran karena kakeknya, mantan Perdana Menteri Nobusuke Kishi, membantu memperkenalkan kelompok tersebut, yang dibentuk pada tahun 1954, ke Jepang, menurut sumber investigasi sebelumnya.
Yamagami juga didakwa karena menyebabkan kerusakan pada sebuah bangunan akibat uji coba penembakan dan melanggar undang-undang yang mengatur senjata api, bahan peledak, dan pembuatan senjata.
Kasus ini menarik 727 orang yang mengantre pada Selasa pagi dengan harapan mendapatkan satu dari 32 kursi publik di ruang sidang, yang ditentukan melalui undian.
Gereja Unifikasi berada di bawah pengawasan ketat atas hubungannya dengan anggota Partai Demokrat Liberal yang berkuasa, yang sebelumnya dipimpin oleh Abe.
Penderitaan para pengikut "generasi kedua", atau anak-anak anggota Gereja Unifikasi, juga terungkap. Gereja tersebut, yang dikenal karena praktik penggalangan dana yang agresif, menghadapi pembubaran menyusul putusan pengadilan untuk pembubaran, yang telah diajukan banding.