JAKARTA - ASEAN dan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus berdiri teguh untuk menunjukkan kekuatan sejati terletak pada kolaborasi, bukan konfrontasi, menyebut kemitraan keduanya harus praktis, nyata dan berwawasan ke depan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri RI Sugiono saat menyampaikan pernyataan nasional atas nama Presiden Prabowo Subianto pada KTT ke-15 ASEAN–PBB di Kuala Lumpur, Malaysia yang dihadiri Sekjen PBB Antonio Guterres Hari Senin.
Menlu Sugiono mengatakan, di tengah dunia yang menghadapi banyak tantangan, sementara multilateralisme berada di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang dibutuhkan adalah rasa tujuan yang bersatu.
"ASEAN dan PBB harus berdiri teguh untuk menunjukkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kolaborasi, bukan konfrontasi," tegas Menlu Sugiono, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Selasa 28 Oktober.
"Kemitraan kita harus praktis, nyata dan berwawasan ke depan," tandasnya.
"Rencana Aksi ASEAN–PBB 2026–2030 menawarkan peta jalan yang menjadi dasar bagi kerja sama yang lebih mendalam dan berorientasi pada hasil," tambahnya.
Terkait ini, Menlu RI mengatakan ketahanan pangan dan aksi iklim menjadi dua bidang yang menuntut perhatian kolektif.
BACA JUGA:
Menlu Sugiono mengatakan, Indonesia akan terus bekerja sama dengan lembaga-lembaga PBB seperti FAO dan WFP untuk memperkuat ketahanan pangan kawasan dan mendorong pertanian berkelanjutan.
Sementara terkait kerja sama iklim, Menlu Sugiono menyoroti inisiatif ASEAN Power Grid untuk meningkatkan konektivitas energi kawasan dan integrasi energi terbarukan, serta mengajak PBB untuk mendukung pembiayaan dan pembangunan kapasitas menuju transisi energi yang adil dan inklusif.
Dalam kesempatan ini Menlu RI juga mendorong kehadiran PBB yang lebih kuat di Jakarta, sebagai cerminan komitmen bersama untuk memperkuat perdamaian, keberlanjutan dan kemitraan.