Bagikan:

JAKARTA - Kesalahan penyebutan nama Presiden Prabowo Subianto dalam forum resmi ASEAN di Malaysia diduga akibat keteledoran teknis pembawa acara. Menurut pengamat politik internasional Teguh Santosa, insiden ini tidak terkait koordinasi protokoler antara RI dan Malaysia.

“Informasi yang saya peroleh, pembawa acara bukan bagian organik RTM dan ada dugaan menggunakan ChatGPT atau AI untuk mengumpulkan data kepala negara,” kata Teguh dalam keterangan, Senin 27 Oktober. 

Teguh yang juga Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) menyebutkan, bukan hanya nama Prabowo yang keliru, tetapi juga PM Singapura dan Thailand.

Meski tampak sepele, kata dia, insiden ini berpotensi memicu persepsi negatif publik Indonesia terhadap keseriusan Malaysia menghormati pemerintahan baru. 

“Kalau dianggap keteledoran protokoler resmi, tentu bisa berdampak. Tapi secara esensial, tidak ada niat buruk dari pemerintah Malaysia,” sambungnya.

Ia menekankan bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo dan Anwar Ibrahim, hubungan Indonesia–Malaysia justru berada dalam fase terbaik dan konstruktif. Namun, ia mengingatkan bahwa diplomasi antar-pemimpin saja tak cukup.

Teguh yang juga Dosen Hubungan Internasional di UIN Syarief Hidayatullah Jakarta ini mendorong penguatan komunikasi publik antarmasyarakat ASEAN. Ia menyarankan agar kunjungan kenegaraan disertai agenda informal dengan media dan pegiat sosial di negara tujuan. Ini dinilai penting untuk membangun “people-to-people contact” dan memperkuat pemahaman lintas negara.

Lebih jauh, ia menilai insiden ini mencerminkan perubahan wajah Indonesia pasca Jokowi. “Prabowo hadir sebagai pemimpin yang aktif membawa gagasan global ke meja diplomasi,” ujarnya.

Terkait dampak jangka panjang, Teguh menyebut insiden ini tidak akan meninggalkan jejak dalam hubungan bilateral. “Ini bukan isu besar. Kita harus fokus pada hal substansial seperti diplomasi, perbatasan, dan pekerja migran,” tandasnya.