Bagikan:

JAKARTA - Para perampok koleksi perhiasan di Museum Louvre, Paris, ditangkap saat salah satu dari mereka hendak terbang meninggalkan Prancis.

Dua pria berusia 30-an dan berasal dari pinggiran kota Seine-Saint-Denis, ditahan pada Sabtu malam, menurut surat kabar Le Parisien, yang pertama kali memberitakan kabar tersebut.

Mereka teridentifikasi oleh polisi Prancis. Salah satu tersangka disebut akan terbang ke Aljazair dari Bandara Charles de Gaulle.

Tidak ada laporan soal permata mahkota Prancis yang dicuri telah ditemukan.

Jaksa Paris, Laure Beccuau, tidak mengatakan berapa banyak orang yang ditangkap atau memberikan detail lebih lanjut tentang mereka.

Dia menyesalkan fakta informasi tentang penangkapan mereka bocor.

"Pengungkapan ini hanya akan menghambat upaya investigasi dari sekitar 100 penyidik ​​yang dimobilisasi, baik dalam pencarian perhiasan curian maupun untuk semua pelaku. Masih terlalu dini untuk memberikan detail spesifik," kata Beccuau dilansir Reuters, Senin, 27 Oktober.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez, yang berada di bawah tekanan publik untuk memberikan hasil investigasi seminggu setelah perampokan, menyampaikan apresiasi kepada para penyidik .

Empat pencuri berpenutup wajah membawa kabur delapan benda berharga senilai sekitar $102 juta dari koleksi Louvre pada 19 Oktober, mengungkap celah keamanan di museum yang paling banyak dikunjungi di dunia tersebut.

Mereka masuk menggunakan tangga derek otomatis untuk memecahkan jendela lantai atas saat jam buka dan melarikan diri dengan sepeda motor.

Berita perampokan tersebut menggema di seluruh dunia, memicu perenungan di Prancis atas apa yang dianggap sebagian orang sebagai penghinaan nasional.

Harta karun yang dicuri termasuk mahkota dan anting dari perhiasan Ratu Marie-Amélie dan Ratu Hortense dari awal abad ke-19.

Mahkota Permaisuri Eugenie, istri Napoleon III, ditemukan rusak di luar museum. Para pencuri tampaknya menjatuhkan benda berharga tersebut, yang terbuat dari emas, zamrud, dan berlian, saat mereka melarikan diri.