Bagikan:

JAKARTA - Perempuan muslim pertama yang pernah menjabat sebagai Menteri Kabinet Inggris, Baroness Sayeeda Warsi, mengkritik keras Israel yang mengundang aktivis ekstrem kanan Inggris, Tommy Robinson.

Warsi menilai Robinson diundang mengunjungi Israel merupakan tanggapan atas kasus penusukan di Manchester.

Menurutnya, undangan Israel ini berpeluang besar menebar perpecahan di Inggris lantaran Robinson memiliki jejak di banyak kasus kekerasan dan penyebaran hoaks anti-migran dan Islamophobia. 

“Menteri Israel mengundang Tommy Robinson, seorang pria dengan banyak hukuman [pidana] atas kekerasan dan penipuan, ke Israel sebagai tanggapan atas serangan mengerikan di Manchester," tulis perempuan yang juga dipanggil Lady Warsi ini melalui akun X-nya, dikutip dari Independet.

“Coba resapi itu," sambungnya.

Mantan menteri kabinet Partai Konservatif Inggris ini meminta agar situasi di Inggris yang sedang berduka tidak dipolitisasi dengan kekeruhan. 

Warsi mengatakan seluruh komunitas di Inggris saat ini saling membantu mencegah kejadian terulang dan mengurangi dampak negatif dari kasus penusukan di Manchester pada Kamis 2 Oktober pagi. 

“Di saat semua komunitas di Inggris bersatu untuk mendukung komunitas Yahudi kami yang berduka, Israel justru menebar perpecahan di negara kami, mendukung dan mempromosikan mereka yang menyebarkan kebencian dan membuat negara kami tidak aman," kata Warsi.

Warsi meminta seluruh komunitas di Inggris mengecam perilaku Israel mengundang ekstremis sayap kanan Inggris. Di tengah aktivitas militernya di Gaza yang ditentang masyarakat internasional, lanjut Warsi, Israel kini berpotensi tinggi menebar polarisasi isu yang dapat menyebabkan keterbelahan di Inggris. 

“Sudah waktunya bagi semua orang yang berpikiran benar untuk mengecam perilaku tidak bertanggung jawab dan sangat berbahaya dari Israel ini,” lanjut Warsi.

Sepakat dengan Lady Warsi, Direktur Lembaga Pemikir British Future Sunder Katwala menilai sosok Tommy Robinson memang aktif dengan kegiatan yang mengandung intoleransi dan memperlebar perbedaan di tengah komunitas Inggris yang heterogen. 

Menurutnya, upaya mengundang mendekati Tommy Robinson, sama saja dengan menyatakan sejalan dengan sikap ekstremis sayap kanan Inggris tersebut yang dikenal anti-muslim.

“Tommy Robinson adalah suara prasangka dan perpecahan. Seharusnya ada tekanan lintas partai dan lintas agama terhadap pemerintah Israel untuk menarik undangannya," ujar Katwala.