Bagikan:

JAKARTA - Ratusan orang melakukan demonstrasi di sekitar Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kuala Lumpur, Malaysia, menuntut Amerika Serikat menggunakan pengaruhnya terhadap Israel, untuk segera membebaskan relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla.

Massa juga meminta AS untuk mendesak Israel membuka akses penyaluran bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Aksi unjuk rasa itu dilakukan kedua kalinya di sekitar Kedubes AS di Kuala Lumpur. Sebelumnya pada Kamis (2/10) massa juga melakukan aksi serupa.

Dilansir ANTARA, dalam aksinya, Jumat, 3 Oktober, massa berkumpul di sekitar Masjid Tabung Haji di Jalan Tun Razak, Kuala Lumpur. Massa pria lebih dulu menunaikan shalat Jumat dan melakukan shalat hajat untuk Palestina.

Selanjutnya mereka bergerak bersama mengarah ke depan Kedubes AS di Kuala Lumpur.

Polisi Diraja Malaysia menjaga ketat akses jalan menuju ke depan Kedubes AS di KL, sehingga massa hanya berorasi di sekitar kedutaan tersebut.

Sebelumnya Sekretaris politik Perdana Menteri Malaysia, Muhammad Kamil menekankan masalah Palestina melampaui politik partisan.

"Dalam masalah Gaza, kita semua harus mengesampingkan perbedaan politik, ras, atau agama, karena ini menyangkut keadilan dan kemanusiaan. Atas dasar itu, semua pihak harus bersatu mendukung setiap upaya, termasuk yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia," kata Kamil.

la mengatakan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga memainkan peran penting melalui keterlibatan dengan para pemimpin dunia untuk memastikan keselamatan para relawan yang terlibat dalam misi tersebut.

PM Anwar Ibrahim yang marah dengan aksi Israel mencegat kapal Flotilla menuju Gaza, menghubungi sejumlah pemimpin dunia untuk mendapatkan dukungan dalam menuntut pembebasan relawan dan aktivis kemanusiaan Gaza, Global Sumud Flotilla.

Pemimpin dunia yang dihubungi Anwar antara lain Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.

"Hingga sore ini, saya telah berdiskusi langsung dengan Perdana Menteri Qatar, Presiden Turki, dan Presiden Mesir untuk mendapatkan dukungan mereka dalam menuntut pembebasan segera para relawan dan aktivis Malaysia yang ditahan secara tidak adil," kata Anwar Ibrahim dalam keterangan di Kuala Lumpur, Kamis, 2 Oktober.