JAKARTA – Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri dialog dengan Majelis Permusyawaratan Umat Islam Indonesia (MPUII) di Gedung Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jakarta, Rabu, 1 Oktober. Pertemuan ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah dan tokoh-tokoh Islam dalam membicarakan arah pembangunan bangsa sekaligus peran umat Islam dalam mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Diskusi dipandu Sekretaris Eksekutif MPUII, Prof. Daniel Rosyid, yang menegaskan perlunya politik umat Islam lebih terorganisir. “Posisi umat harus tepat dalam membantu serta bekerja sama menyukseskan pemerintahan Prabowo Subianto,” ujarnya.
Fadli Zon mengapresiasi forum ini dan menekankan perhatian Presiden Prabowo terhadap umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia. Salah satunya melalui pembentukan Kementerian Haji dan Umrah. “Ini bukan sekadar soal ibadah, tetapi juga perputaran ekonomi yang besar. Bahkan Presiden menggagas Indonesian Village di Madinah, lengkap dengan hotel, rumah makan, dan fasilitas untuk masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Menbud juga menyoroti kepemimpinan Prabowo di kancah global. Ia menyebut Presiden mengambil kendali penuh dalam diplomasi internasional, termasuk sikap tegas soal Gaza. “Pak Prabowo menyerukan penghentian kekerasan di Gaza. Kini kita melihat banyak negara Barat mulai mengakui Palestina,” kata Fadli.
Dialog kemudian diisi pandangan anggota MPUII. Agus Maksum menekankan pentingnya implementasi Pasal 33 UUD 1945 dengan penguatan Koperasi Merah Putih yang sudah mencapai 80 ribu unit. Ia berharap koperasi terkoneksi digital dan terintegrasi dengan platform transportasi daring agar pemerataan ekonomi lebih nyata. Sementara Salim Abdullah menyoroti penulisan sejarah bangsa sebagai bagian penting membangun identitas.
Menjawab isu sejarah, Fadli menegaskan pentingnya memperkuat narasi kebangsaan. Ia mencontohkan penemuan situs Bongal di Tapanuli Utara dengan koin Dinasti Umayyah abad ke-7, bukti awal masuknya peradaban Islam. Ia juga menyebut penemuan lukisan gua purba di Maros, Muna, dan Sangkulirang. “Indonesia adalah peradaban tua yang merangkul tradisi, bukan menghancurkannya,” ujarnya.
BACA JUGA:
Hadir pula Staf Ahli Menteri Kebudayaan, Masyitoh Annisa Ramadhani Alkitri, Ketua MPUII Ustaz Akhwan, serta para anggota MPUII.
Menutup dialog, Fadli Zon menegaskan pentingnya stabilitas sebagai syarat pertumbuhan ekonomi. “Indonesia relatif aman, damai, dan terkendali. Stabilitas adalah modal utama. Pemerintah akan terus mendorong kemandirian pangan, energi, dan pertahanan, sembari membuka ruang kolaborasi dengan umat Islam dan seluruh elemen bangsa,” tegasnya.