JAKARTA - Dokter Spesialis Anak Dr. dr. Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Sp.A(K) meminta masyarakat mewaspadai gejala campak pada anak karena dapat menimbulkan komplikasi serius.
“Gejala awal campak sering kali dianggap sepele karena mirip flu,” kata Dominicus dalam keterangan resminya di Jakarta, Antara, Rabu, 1 Oktober.
Campak biasanya ditandai dengan demam, batuk, dan pilek, kemudian berkembang menjadi ruam di seluruh tubuh. Jika tidak ditangani dengan baik, penderita berisiko mengalami pneumonia, diare berat, hingga radang otak (ensefalitis) yang dapat menyebabkan kecacatan permanen bahkan kematian.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan rekomendasi imunisasi campak-rubella (MR) atau MMR sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Dosis pertama diberikan pada usia 9 bulan dengan vaksin MR, dilanjutkan dosis kedua pada usia 15–18 bulan, dan booster pada usia 5–7 tahun.
Jika anak belum menerima vaksin MR hingga usia 12 bulan, vaksin MMR dapat diberikan sebagai dosis pertama. Di Indonesia, dosis kedua diberikan dengan interval 6 bulan, lalu sekali lagi pada usia 5–7 tahun.
“Dengan mengikuti jadwal imunisasi lengkap, anak memiliki peluang lebih besar untuk terlindungi dari campak serta risiko komplikasi gondongan dan rubella,” ujarnya.
Dominicus juga menekankan pentingnya pencegahan penularan campak dengan menghindari kontak langsung dengan penderita. Penyakit ini sangat menular bahkan melalui pernapasan. Keluarga diimbau menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan rutin, memastikan ventilasi ruangan baik, serta meningkatkan daya tahan tubuh anak lewat gizi seimbang, tidur cukup, dan aktivitas fisik.
Country Medical Lead MSD Indonesia dr. Amrilmaen Badawi menambahkan, langkah sederhana yang penting dilakukan orang tua adalah memeriksa kembali buku imunisasi anak.
“Pastikan dosis MMR lengkap, dan bersama-sama kita lindungi anak-anak kita agar tumbuh menjadi generasi sehat dan kuat,” kata dia.
BACA JUGA:
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga Agustus 2025, terdapat 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Indonesia. Jawa Timur menjadi salah satu wilayah dengan kasus tinggi, khususnya Kabupaten Sumenep yang melaporkan 2.139 kasus suspek campak dengan 205 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 20 anak meninggal dunia.
Kementerian Kesehatan menyebut cakupan imunisasi campak masih jauh dari target 95 persen yang dibutuhkan untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).