Bagikan:

JAKARTA - Uni Emirat Arab (UEA) mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menerima proposal perdamaian Gaza dari Presiden Donald Trump pada pertemuan Senin di Gedung Putih.

Netanyahu juga diminta membatalkan rencana aneksasi Tepi Barat, ungkap seorang delegasi yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters, Senin, 29 September.

Uni Emirat Arab, negara Arab paling terkemuka yang menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah Perjanjian Abraham, memperingatkan Netanyahu aneksasi akan menutup pintu bagi normalisasi lebih lanjut Israel dengan negara-negara Arab dan Muslim terkemuka, termasuk Arab Saudi dan Indonesia, sambung delegasi tersebut.

Pemimpin Israel menghadapi tekanan untuk mencaplok Tepi Barat dari politisi sayap kanan yang ingin memperluas kedaulatan atas wilayah tersebut dan memadamkan harapan akan negara Palestina.

Seorang pejabat senior Israel mengatakan Netanyahu akan memberikan tanggapan Israel terhadap proposal perdamaian Gaza Trump ketika ia bertemu dengan pemimpin AS tersebut di Gedung Putih.

Posisi UEA terkait rencana perdamaian Gaza Trump dikomunikasikan kepada Netanyahu oleh Menteri Luar Negerinya, Sheikh Abdullah bin Zayed, dalam pertemuan dengan pemimpin Israel tersebut di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pada Jumat pekan lalu, kata delegasi tersebut.

Isi pernyataan Sheikh Abdullah kepada Netanyahu pada pertemuan tersebut belum pernah dilaporkan sebelumnya.

Sheikh Abdullah, yang negaranya memiliki pengaruh diplomatik di Timur Tengah, mengatakan UEA mendukung rencana AS tersebut, dan menggambarkannya sebagai rencana yang menawarkan manfaat signifikan bagi semua pihak.

Ia mendesak Netanyahu untuk terlibat secara serius dengan pemerintahan Trump guna memajukan rencana tersebut hingga implementasi, kata delegasi tersebut.

Trump bertemu dengan beberapa pemimpin Arab dan Muslim di sela-sela Sidang Umum PBB di New York pekan lalu untuk mempromosikan kerangka kerja 21 poinnya guna mengakhiri perang Israel-Hamas yang telah berlangsung hampir dua tahun dan memenangkan kebebasan bagi para sandera yang masih ditawan oleh kelompok militan Palestina tersebut.

Pada Minggu, Trump mengatakan kepada Reuters, ia berharap pada pertemuan Senin akan mendapatkan persetujuan Netanyahu mengenai kerangka kerja tersebut.

Gedung Putih mengatakan pada Senin, Israel dan Hamas "sangat dekat" untuk menyepakati kesepakatan kerangka kerja guna mengakhiri perang Gara.

Abdulaziz al-Sager, Ketua lembaga pemikir Gulf Research Center yang berpusat di Saudi, mengatakan Arab Saudi menyambut baik dua komitmen utama yang menurutnya telah dibuat Trump: tidak ada deportasi paksa dari Gaza dan tidak ada aneksasi Tepi Barat.