Bagikan:

JAKARTA - Pendanaan berkelanjutan dan terprediksi merupakan urat nadi operasi United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees in the Near East (UNRWA), kata Menteri Luar Negeri RI Sugiono.

Hal tersebut disampaikan Menlu Sugiono dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Menteri mengenai UNRWA di sela-sela Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di New York, Amerika Serikat Hari Kamis waktu setempat, Menlu Sugiono menyebutkan Indonesia siap mendukung secara politik hingga finansial.

Kekurangan pendanaan menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi UNRWA dan menjadi keprihatinan mendalam Menlu RI, selain tekanan politik hingga upaya untuk mendelegitimasi mandatnya.

"Pendanaan yang berkelanjutan dan terprediksi merupakan urat nadi operasi UNRWA," kata Menlu Sugiono, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Jumat 26 September.

"Indonesia tetap berkomitmen untuk berkontribusi kepada UNRWA, baik melalui pemerintah kami maupun melalui saluran inovatif lainnya, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kami," tandasnya.

Diketahui, UNRWA didirikan oleh Majelis Umum pada tahun 1949 setelah perang yang terjadi di sekitar berdirinya Israel. UNRWA menyediakan bantuan, kesehatan, dan pendidikan bagi jutaan warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, Suriah, Lebanon, dan Yordania.

Sekjen PBB Antonio Guterres dan Dewan Keamanan PBB telah menggambarkan UNRWA sebagai tulang punggung respons bantuan di Gaza.

Namun, UNRWA menghadapi tantangan usai stafnya dituduh terkait dengan kelompok militan Hamas. Tak sampai di situ , Amerika Serikat sebagai pendonor terbesar UNRWA menghentikan pendanannya pada Januari 2024 lewat keputusan Presiden AS Joe Biden ketika itu. Keputusan ini diperpanjang Kongres AS dan Presiden Donald Trump, membuat badan itu mengalami defisit sekitar 200 juta dolar AS.

Dikutip dari situs UNRWA, badan tersebut hampir sepenuhnya bergantung pada kontribusi sukarela dari Negara Anggota PBB dan organisasi antarpemerintah untuk pendanaan mandat dan operasionalnya.

Tahun lalu, UNRWA memobilisasi sekitar 1,4 miliar dolar AS dalam bentuk komitmen yang telah dikonfirmasi dan menerima 1,3 miliar dolar AS dalam bentuk kontribusi, tingkat pendapatan tertinggi kedua dalam sejarah Badan tersebut setelah rekor tertinggi pada tahun 2023.

Namun, pendapatan tidak mampu memenuhi kebutuhan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu sebesar 2,7 miliar dolar AS, yang hanya mencapai 51 persen dari kebutuhan anggaran.

Tahun lalu, Jerman tercatat sebagai donor terbesar UNRWA dengan dana mencapai 173.944.652 dolar AS, disusul Uni Eropa dengan 153.662.358 dolar AS, serta Amerika Serikat di peringkat ketiga dengan 70.597.571 dolar AS.