Bagikan:

JAKARTA - Komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyimpulkan pada Hari Selasa, Israel melakukan genosida di Jalur Gaza, Palestina dan para pejabat senior Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah menghasut tindakan-tindakan tersebut.

Komisi tersebut mengutip contoh-contoh termasuk skala pembunuhan, hambatan bantuan, pemindahan paksa, dan penghancuran pusat kesuburan untuk mendukung temuan genosida mereka, menambahkan pendapatnya kepada kelompok-kelompok hak asasi manusia dan pihak lain yang telah mencapai kesimpulan yang sama.

"Genosida sedang terjadi di Gaza," kata Navi Pillay, ketua Komisi Penyelidikan Internasional Independen untuk Wilayah Palestina yang Diduduki yang juga mantan hakim Mahkamah Pidana Internasional, dikutip dari WAFA 16 September.

"Tanggung jawab atas kejahatan mengerikan ini berada di tangan otoritas Israel di tingkat tertinggi, yang telah memimpin kampanye genosida selama hampir dua tahun dengan tujuan khusus melenyapkan warga Palestina di Gaza," tambahnya.

Diketahui, konflik terbaru di Jalur Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, saat kelompok militan Palestina yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.

Itu dibalas Israel dengan melakukan serangan udara, blokade hingga operasi darat. Konflik sempat terhenti sementara pada 19 Januari hingga 18 Maret, saat kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Mesir, Qatar dan Amerika Serikat.

Pada Hari Selasa, sumber-sumber medis di Jalur Gaza mengumumkan jumlah korban tewas akibat agresi Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 64.964 orang dan 165.312 orang terluka, sejak 7 Oktober 2023.

Angka itu termasuk mereka yang tewas saat mencari bantuan yang telah mencapai 2.497 orang dan 18.294 lainnya terluka.

Juga termasuk mereka yang tewas karena kelaparan dan malnutrisi yang telah mencapai 428 orang, di mana 146 di antaranya anak-anaknya.