Bagikan:

JAKARTA - Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk hak-hak Palestina Francesca Albanese mengatakan, Israel berupaya membuat Kota Gaza tak layak huni dalam serangannya terhadap wilayah perkotaan terbesar di wilayah kantong Palestina tersebut, membahayakan nyawa para sandera Israel.

"Israel mengebom menggunakan senjata non-konvensional. Israel berupaya mengevakuasi warga Palestina secara paksa. Mengapa? Ini adalah bagian terakhir Gaza yang perlu dibuat tak layak huni sebelum melanjutkan pembersihan etnis di wilayah tersebut," kata Albanese kepada para wartawan di Jenewa, melansir Reuters 16 September.

Sementara itu, Misi Tetap Israel untuk PBB menolak komentar Albanese.

"Berbagai pernyataannya telah menunjukkan kesediaannya untuk melakukan upaya ekstrem dalam mendelegitimasi Negara Israel," kata Misi tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Menurutnya, Hamas tidak membenamkan diri dalam infrastruktur sipil, tidak secara sinis menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia, dan secara umum tidak benar-benar ada," tambah misi tersebut.

Israel mengatakan serangan untuk menguasai Kota Gaza merupakan bagian dari rencana untuk mengalahkan kelompok militan Palestina Hamas untuk selamanya, memperingatkan warga sipil untuk menuju ke selatan menuju zona kemanusiaan yang telah ditentukan.

Namun, PBB dan banyak negara mengatakan taktiknya merupakan pengungsian massal secara paksa dan kondisi di zona kemanusiaan tersebut sangat buruk, dengan persediaan makanan yang terbatas.

Albanese menjabat sebagai pelapor khusus untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, salah satu dari puluhan pakar yang ditunjuk oleh Dewan Hak Asasi Manusia PBB yang beranggotakan 47 orang untuk melaporkan isu-isu global tertentu.

"Serangan yang sedang berlangsung untuk merebut sisa-sisa terakhir Gaza tidak hanya akan menghancurkan Palestina tetapi juga membahayakan para sandera Israel yang tersisa," kata Albanese,

Ia menilai Israel melakukan genosida. Beberapa kelompok hak asasi manusia seperti Amnesty International juga menuduh Israel melakukan genosida.

Israel menolak tuduhan tersebut, dengan alasan haknya untuk membela diri setelah serangan 7 Oktober 2023 oleh militan Hamas yang menewaskan 1.200 orang dan mengakibatkan penangkapan 251 sandera, menurut data Israel.

Sementara itu, otoritas medis Gaza mengonfirmasi hingga Senin jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah mencapai 64.905 jiwa, mayoritas perempuan dan anak-anak, sejak dimulainya agresi Israel pada Oktober 2023, sementara sedikitnya 164.926 orang terluka dalam kurun waktu yang sama, dikutip dari WAFA.

Jumlah itu termasuk 2.497 orang yang tewas dan 18.182 orang luka-luka saat tengah mencari bantuan di tengah situasi Gaza yang memprihatinkan.

Termasuk juga jumlah korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi, di mana jumlahnya telah mencapai 425 orang, termasuk 145 anak-anak.